Thursday, January 31, 2008

Makan Tuh Cinta!!!

Aku berjalan tegak, sambil menenteng tas tanganku di koridor antara toko-toko mewah dalam mall. Tidak ada diantara toko-toko ini yang tidak pernah kumasuki. Ketika aku berdiri di depan salah satu toko-toko itu, penjaga toko akan dengan hormat langsung membukakan pintu untukku. Bukan hormat padaku, mereka hormat pada uang yang kumiliki dan meski bukan diriku yang dihormati, aku merasa cukup terhormat karena memiliki uang yang cukup banyak untuk membuat orang-orang menjadi hormat padaku. Saat ini, aku membelanjakan uang Ayahku dan suatu saat nanti, aku akan memiliki suami yang mengatakan, “Uang memang sudah seharusnya dibelanjakan.”

Aku terus berjalan optimis melihat ke depan, tidak melihat ke arah lain sama sekali. Mataku terfokus pada toko Chanel yang sudah ada di depan mataku. Aku menambah kecepatan langkah kakiku. Lalu tanpa sadar aku menabrak seseorang dengan keras. Karena kecepatan berjalanku tadi, tabrakkan kami membuat aku dan dirinya jatuh tersungkur. “Aww,” kataku mengaduh dan segera berdiri memperbaiki posisiku. Ternyata seseorang yang kutabrak adalah pria bertubuh tinggi tegap, dengan wajah lumayan. Ia mengenakan polo shirt dengan motif garis-garis berwarna biru dan hitam, ditambah dengan celana jeans selutut, lalu ditutup dengan sepatu sport putih merk Reebok.

“Lu itu aneh ya, kata maaf lu bukan ‘sori’, tapi ‘aww’. Tampang lu bukan tampang bersalah tapi malah ngeliatin gue dari atas sampai bawah!” katanya angkuh.

“Sori.. tadi gue cuman refleks.. sekali lagi gue minta maaf yah..,” ucapku sambil memungut tas-tas belanjaanku yang tergeletak berserakan di lantai.

“Oke.. untung masih sadar diri lu!” ucapnya, berlalu meninggalkanku tanpa membantu sama sekali.

Aku kembali memungut barang-barang yang keluar dari tas belanjaanku dan segera meninggalkan tempat kejadian sial itu menuju parkiran, tidak jadi memasuki Chanel.

Aku baru saja memasuki pelataran parkir sambil mencari-cari kunci mobilku di dalam tas ketika aku ―lagi-lagi― menabrak seseorang, yang untungnya kali ini aku tidak sampai terjatuh. Kenapa sih harus menabrak dua orang di jam yang sama?, omelku dalam hati sambil mengangkat kepala, bersiap meminta maaf sebelum dimaki-maki seperti kejadian sebelumnya. “Sori,” ucapku pada punggung seseorang, ternyata yang kutabrak juga baru masuk ke pelataran parkir.

Laki-laki itu berbalik dan aku masih ingat dengan jelas bahwa dia adalah orang yang sama dengan yang kutabrak sebelumnya. “Ya ampun,” ucapnya mengesalkan hati. “Kok bisa ya ngeliat lu lagi? Lu tuh tukang nabrak ya?”

Aku berusaha untuk tidak terpancing marah olehnya. “Gue uda minta maaf kali. Ga perlu kesel kayak begitu, kan?”

“Emang udah minta maaf, tapi lebih bagus lagi tuh, lu ga usah nabrak,” ucapnya makin menyebalkan, kemudian melenggang pergi dari hadapanku.

Sebelum dapat kutahan lagi, tanganku bergerak memegang kantong belanjaan dan melemparkannya ke arah laki-laki menyebalkan itu hingga mengenai punggungnya ―yang meleset dari sasaranku yang pertama yaitu kepalanya. Laki-laki itu berbalik dan sebelum dirinya sempat memaki lebih banyak lagi, aku mendahuluinya memaki, “Lu tuh orang yang nyebelin banget ya? Ga minta maaf, ngomel. Pas dengan bae hati gue minta maaf, lu juga ngomel. Dasar tukang ngomel! Manusia ga tau senyum!” Aku berhenti sejenak, memikirkan omelanku selanjutnya. “Kalo ga mau ketabrak, ga usa ke tempat yang orangnya rame aja sekalian.”

Aku menatap orang itu, sebal. Sudah lama sekali tidak pernah mengomel-omel. Ketika kekesalanku mereda, aku menatap kantong belanjaan yang tergeletak di depan kaki orang itu. Baru kusadari bahwa kantong yang kulempar berisi sepatu pesta untuk malam nanti.

Lalu, dengan raut wajah yang licik, ia mengambil kantong belanjaanku itu. Aku menatapnya dengan garang. “Mau ngapain lu ambil-ambil belanjaan gue?” tanyaku sebal.

“Lu kan udah nggak mau lagi nih barang sampe lo lempar sembarang. Daripada barang lu mubazir, mendingan gue ambil kan?” Ia balik bertanya.

“Udah ah, buang-buang waktu aja disini ama lu, thanks yah!” tambahnya.

Ia pun melenggang pergi dengan gaya sok superstar namun berwajah pas-pasan. Oh ya! Aku harus mengambil sepatuku kembali. Aku mengejarnya namun di gedung parkir yang tidak terlalu terang, dan banyak mobilnya ini menyulitkanku menemukannya. Sial, lihat saja. Nanti kalau aku bertemu dia lagi. Huh, aku pasti akan menjitak kepalanya sebanyak tiga kali dengan hak sepatuku.


Malamnya di pesta,

Pesta pertunangan anak salah satu relasi papa cukup menyenangkan. Pesta ini diadakan di kebun rumahnya sendiri yang memang cukup luas untuk diadakan pesta. Aku berkeliling kebun sambil sedikit-sedikit meneguk anggur yang terasa asam di lidah namun hangat di tenggorokan. Hmm, aku menikmati malam ini.

Aku berjalan menyusuri tiap sudut kebun ini. Tak terasa, kakiku melangkah keluar menuju ruang utama, ruang makan, kuamati tiap sisi seluruh rumah ini. Tetap berjalan layaknya model di atas catwalk. Hmm.. hingga aku tertegun menatap satu pintu yang membuatku merasa berbeda dengan pintu-pintu lainnya...

Diriku mencoba mendekati pintu yang membuatku penasaran. Pintu yang membuatku ingin segera membuang dan melihat apa sebenarnya isi dibalik ruangan itu. Memang, pintu itu terlihat seperti sebuah kamar laki-laki yang boyish dan gentle dengan pernak-pernik bertuliskan “Heroes Zone”, “Don’t Enter”, “Superman”.. hmm.. seperti kebanyakan laki-laki yang ada di muka bumi ini. Hmm.. setelah kupikir-pikir nothing special in this room, aku segera mengurungkan niatku untuk membuka pintu itu dan membalikkan badanku secepat mungkin dan kembali ke pesta sebelum seseorang curiga melihatku disini. Hmm.. ngomong-ngomong entah apa yang ada di otakku sehingga membuatku merasa begitu tertarik dengan pintu tersebut. Hmm.. ahh.. forget it!

Aku segera berjalan cepat dengan tidak lupa gaya khasku ketika berjalan dengan angkuhnya ―meskipun merasa aku tidak angkuh― tanpa memandang sekelilingku.

“Eits!!!” Aku langsung menatap ke depan, keluar dari pikiranku sendiri dan menemukan sosok yang sebelumnya mengambil sepatuku. Diriku langsung berhenti berjalan, menatapnya dengan menantang, meski kalau dia tidak muncul lagi, mungkin aku tidak akan mengingatnya lagi.

“Ngapain lu ada disitu?”

“Ikh... Kenapa lu harus tau?” balasku sinis, padahal suasana pesta masih kurasakan beberapa detik yang lalu. Aku berjalan cepat, melewatinya. Baru kusadari bahwa tubuhnya benar-benar tinggi, kepalaku saja tidak sampai setinggi bahunya.

“Apa?” ucapnya lagi dengan sinis. Ternyata, tanpa kusadari, aku berhenti dan menatapi perbedaan tinggi tubuhnya dan tubuhku. “Lu seneng banget ngeliatin orang ya?”

Rona merah mulai merambati wajahku, membuatku salah tingkah. “Ngga, sori.” Aku berjalan kembali.

Ketika sudah keluar dari dalam rumah, aku segera menuju ke bar, mengisi kembali gelas anggurku. Tidak pernah terpikir olehku sebelumnya bahwa seseorang dapat membuatku malu seperti itu, bahkan hingga menyebabkan diriku salah tingkah. Kusandarkan punggungku ke meja bar dan memandangi pasangan bahagia yang baru saja bertunangan itu. Tanpa kusadari, pikiranku melayang ke keadaan diriku sendiri. Aku wanita lajang, berumur 23 tahun, mungkin bagi orang barat, lajang di umurmu yang baru berkepala dua sama sekali tidak ada masalah, namun bagi orang disekelilingku, yang merupakan orang timur, lajang ketika umurmu sudah 23 tahun berarti tanda-tanda bahwa kau akan menjadi perawan tua. Diriku tersenyum sekilas ketika pikiran menjadi perawan tua melintas dalam pikiranku. Kebun, malam hari, dua pasangan bahagia, bunga-bunga, semuanya terasa begitu romantis, atau itu pengaruh anggur yang kuminum hingga aku menjadi begitu sensitif saat-saat ini? Sambil memikirkan begitu banyak hal, tanpa terasa, gelasku terus kuisi dengan anggur dan sayangnya, saat ini aku lupa bahwa aku tidak sanggup meminum lebih dari tiga gelas tanpa menjadi mabuk. Saat ini, entah berapa banyak gelas yang sudah kutengak.

Pandanganku mulai berbayang-bayang dan tanah mulai terasa bergoyang ketika sepasang lengan menopang tubuhku dari belakang. Aku tersenyum, berusaha berdiri tegak, lalu menatap ke belakang, aku tak mampu melihat jelas, wajah di depanku terlalu berbayang-bayang. “Makasih.” dan perlahan-lahan, gelap mulai menggantikan bayang-bayang.

***

Kepalaku terasa berat ketika kubuka mataku perlahan-lahan. Diriku terdiam sejenak dan mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Kesal, anggur, lajang, anggur, bayang-bayang, terima kasih, gelap.

Kuedarkan mataku ke sekeliling. Aku berada di sebuah kamar, tertidur di ranjang yang empuk, dan... Oh, tidak! Ini bukan kamarku! Aku langsung terduduk dan ―mengingat apa yang biasanya terjadi di film-film― aku menengok ke sebelahku, berharap tidak akan menemukan sosok lelaki atau apapun.

Piuhh!! Aku menghembuskan napas lega, tidak ada sosok apapun, aku sendiri di dalam kamar ini. Aku mulai tertawa, menertawakan pikiran paranoidku, sepertinya aku masih terpengaruh anggur yang tadi. Kubaringkan lagi tubuhku dan berusaha tertidur lagi, kepalaku terlalu berat untuk melakukan apapun saat ini.

Baru saja kututup mataku, aku mendengar suara pintu terbuka kemudian menutup kembali. Sepertinya seseorang baru saja keluar dari kamar mandi, yang pintunya tadi sempat kulihat. Kutahan napasku, takut bila yang ternyata membuka atau menutup pintu tidaklah berwujud.

Aku terus mendengarkan suara hingga seseorang menggoyangkan tubuhku. Aku tetap diam. Kemudian punggung tangan seseorang menempel di dahiku, mengecek suhu tubuhku, lalu selimut yang menutupi tubuhku dinaikkannya hingga menutupi bahuku. Dan saat itulah, aku membuka mata dan melihat sosok yang dari tadi bergerak, laki-laki yang dari kemarin terus menerus kutemui.

Dia melihatku, mata kami saling bertemu dengan yang lainnya. Perlahan-lahan, entah apa yang menggerakkan diriku dan dirinya, bibir kami pun bertemu.

***

Aku merasa linglung saat ini. Tidak begitu jelas, kulihat sesosok tubuh ―Ahh!! Telanjang. Hah, dia! Pria itu, aku baru ingat. Tadi malam, kami melakukan.... Aku tak mampu mengungkapkannya. Ia bergerak turun dari ranjang dan berdiri menghadap ke arahku.

“Gue mandi dulu.” Ia pamit lalu segera berlalu menuju kamar mandi.

Aku mencoba merenung. Apa yang harus kulakukan setelah ini? Aku juga tak akan mungkin menyalahkannya dalam peristiwa ini. Ini terjadi karena kami sama-sama menginginkannya. Aku berpikir begitu lama sampai tak terasa pria-yang-telah-bercinta-denganku-namun-bahkan-aku-tak-tahu-namanya sudah kembali dari kamar mandi. Ia tampak segar dengan kaus oblong putih dan celana pendek berwarna hitam.

“Gue tunggu di luar ya,” katanya. Aku tahu kalimat simpel itu menandakan bahwa ia ingin aku segera mandi, lalu bertemu untuk berbicara dengannya di luar.

Maka aku pun langsung bergerak ke kamar mandi. Setelah beberapa saat menyegarkan diri dengan air, sampo, dan sabun, aku pun keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap, pakaian yang kemarin kukenakan. Aku lalu berjalan keluar dari kamar. Di ruang tamu, ternyata tidak ada orang sama sekali. Aku melanjutkan berjalan menuju ke ruang makan. Kutemukan ia sedang duduk rapi di meja makan sambil menikmati sarapannya, mi instant goreng dan minumnya orange juice. Ia menatapku.

“Lu mau sarapan?” tawarnya padaku.

“Nggak, gue mau ngomong sama lu aja,” kataku. Aku sebenarnya lapar, tapi menurutku mie instant bukan makanan yang sehat untuk sarapan.

“Mau ngomong apa?” tanyanya langsung.

“Apa ini rumah lu?” Aku bertanya balik.

“Rumah orang tua gue.”

“Trus orang tua lu mana?”

“Ke luar negri.”

“Kakak ato adik lu?”

“Nggak punya.”

“Pembantu?”

“Nggak ada.”

“Jadi kita cuma berdua disini?”

“Iya. Sekarang giliran gue yang nanya.”

“Gak! Pertanyaan gue belom selese.. kenapa lu ngelakuin ini semua ke gue?”

“Sori.. kalo masalah kemaren.. gue ga sadar. Tiba-tiba terjadi..,” jawabnya singkat dan terkesan cuek.

“Trus apa yang mesti kita lakuin?”

“Gue akan tanggung jawab!”

“Hah? Enak banget lu ngomong! Lu kira gue mau apa nikah sama lu? Trus atas dasar apa lu mau sama gue?” balasku ketus.

“Cinta... Dari awal ketemu sama lu, sebenernya gue udah suka sama lu.. tapi gue gak tau ngungkapinnya gimana...”

“Hah? Lu cinta sama gue? Emang lu pikir buat bangun keluarga cukup pake cinta doank?? Duit tuh paling penting!! Kalo ga ada duit gimana mau hidup?? Makan tuh cinta!!”

“Matre banget sih lu jadi cewek!!”

“Ya udahlah lupain aja masalah ini.. gue gak nyuruh lu tanggung jawab.. ini juga gara-gara kesalahan gue juga.. lebih baik anggep ga terjadi apa-apa selama ini.. Ok?? Mulai sekarang kita pura-pura tidak kenal satu sama lain!” ucapku sambil berlalu meninggalkan ruang makan serta rumah busuk sialan itu.

4 – 24/01/08
??.??

-JuCaSh-

Rambut-Rambut Cinta


Pertama kali kulihat dia, aku hanya melihat rambutnya. Panjang. Tergerai. Indah. Dia berpapasan denganku pada suatu saat, dirinya berjalan melewatiku dan aku baru tahu bahwa itu adalah dirinya ketika rambutnya mengenai wajahku. Baru kusadari saat itu bahwa aku jatuh cinta padanya ―atau dengan kata lain, jatuh cinta pada rambutnya.

Rambut yang ia miliki tak akan pernah membuat rasa cintaku padanya menyurut. Aku selalu terkagum-kagum pada rambutnya. Wajahnya pun menawan. Tubuhnya menggelora. Kakinya menggairahkan. Ia menatap ke dalam mataku. Aku membalas tatapannya. Wajah kami mendekat. Hanya sekitar 5 cm lagi. Bibirku kumajukan. Mataku kututup. Kumajukan wajahku lagi, lalu kubuka lebar mulutku. Terasa sesuatu yang halus memasuki lubang mulutku. Mataku kubuka. Oh tidak, aku memakan rambutnya. Sesuatu yang kudambakan malah kurusak. Bagaimana ini?

Belum ―belum, belum tergigit. Untunglah. Piuhh... kukeluarkan rambutnya itu dari mulutku. Ada sedikit liur sih, namun tak apalah. Kenapa dia tidak berjalan lagi ya? Ow, ada papan pengumuman ternyata di belakangku, dia sedang membacanya. Kulap liurku dari rambutnya. Tiba-tiba saja dia berbalik dan parahnya ―”Aaaaaa...”― dia menjerit kencang.

“Eh, eh..,” kataku salah tingkah.

“Apa eh-eh?! Ini apaan? Kok ada air lengket di rambutku?! Kamu juga ngapain pegang-pegang rambutku?!” bentaknya sambil memegang-megang rambutnya. Bagaimana ini?

“Tadi diatas ada yang ngebuang cairan entah apa ke bawah, terus kena rambut kamu, jadi aku coba buat ngelap,” kataku asal.

Raut wajah perempuan berambut panjang ini perlahan-lahan berubah. Dari marah hingga malu.
“Ya ampun.” Suaranya melembut. “Kamu bae banget. Makasih.”

“Oh.” Aku tersipu sendiri ketika perempuan itu mulai memegang tanganku ketika mengucapkan terima kasih. “Sama-sama. Rambut kamu bagus sih.”

Dia tersenyum. “Oh ini.” Dia memegang rambutnya. “Emang bagus, aku juga ada yang warna pink, biru, hijau, nanti aku mau beli yang pirang.”

Rahangku rasanya langsung jatuh ketika dia mengatakan hal itu.

“Sori, kamu pake rambut palsu?” tanyaku jujur, ragu-ragu.

“Emang cuma aku hobi aja ngecat rambut, yang kumaksud tadi, aku punya banyak botol cat rambut aneka warna,” jawabnya dengan mimik polos yang terdengar serasa meremas-remas jantungku.

Aku agak lega mendengar penuturannya. Hampir kukira ia botak. Masih deg-degan, karena insiden ‘gue-kira-kpala-dia-ternyata-botak’ dan dia juga masih megangin tanganku, aku melengos lega.

“Kamu juga mau liat yang warna warni? Ato kamu mau punya rambut warna-warni gitu?” tanyanya genit, tubuhnya makin lama makin dekat denganku.

“Aku pengennya sih kamu.” Aaargghh... Bego banget. Kok bisa ngomong gitu tiba-tiba sih?

“Boleh-boleh aja. Kamu bisa datang nanti malam ke rumahku. Aku dan teman-teman cewekku bakal ngadain acara ‘Stylish Hair Fashion Show’ yang seru banget. Kamu bisa jadi juri tamu. Dan kamu bisa lihat aku dengan berbagai warna dan bentuk rambut,” jelasnya panjang dan membuat aku binggung.

Oh no.. oh no.. oh no.. oh no..., pikirku cemas, kenapa dia ga ngerti sih? Maksudku kan bukan rambut, maksudku itu ‘dia’, ‘dia’ jadi pacarku.. bukan rambut.

Aku mendeham, berusaha menjelaskan lebih lanjut namun tak tahu bagaimana. “Maksudku, aku pengennya kamu, bukan rambut kamu,” kataku lugas.

“Hah? Kamu maunya apanya aku?” tanyanya dengan ekspresi bodoh.

“Diri kamu. Aku suka sama kamu. Sejak dulu.”

“Apa?! Bahkan aku nggak tau nama kamu...”

“Namaku Tubmar,” ucapku ragu, namaku pasti aneh sekali baginya. Genggamannya makin erat.
Matanya berkaca-kaca menatap mataku. Bibirnya bergerak perlahan-lahan, berusaha mengucapkan kata-kata, setelah beberapa lama tidak mengeluarkan kata apapun, suaranya mulai terdengar, “Oh my God, kamu so sweet banget. Tubmar? Itu kebalikannya rambut kan?”

Aku menatapnya binggung. Rambut? Tubmar? Aku berpikir sejenak. Memang benar sih kebalikannya, tapi aku baru tahu juga sekarang. Yang kutahu, namaku itu asalnya dari...
Oh ya! Namaku itu.. dari nama Papa dan Mama. Nama Papa Tuberano. Nama Mama.. Marimar. Jadi, mana mungkin namaku berasal dari kata rambut yang dibalik? Tapi, dia bener juga. Apa jangan-jangan karena itu, aku mencintai rambut wanita ini?

“Kalau gitu, nama kamu siapa?”

“Namaku Cinta,” jawabnya penuh semangat.

“Sangat pantas dengan kamu. Kamu kelihatan penuh cinta.”

“Aih,” ucapnya tersipu, suaranya sedikit centil, sedikit genit, terdengar begitu menggoda. “Kamu bener-bener so sweet deh.”

Wajahku merona, memanas, seiring dengan kata-katanya dan wajahnya yang makin mendekat, lebih dekat lagi, sangat dekat, terlalu dekat, menempel ―dan sayangnya, menempel di rambut― bukan di bibirku yang sudah menanti ini.

“Ups,” katanya terkejut.

“Kita itu kompak banget ya? Tadi jujur aja yang nempel di rambut kamu bukan cairan dari atas, tapi liurku karena aku pingin cium kamu. Tapi yang kena malah rambut kamu. Sori yah.”

“Apa? Jadi liur kamu nempel di rambutku?!”

Aku mengangguk pasrah, siap bila dia marah dan melepaskan genggamannya dariku. Namun, lagi-lagi, matanya menjadi sayu dan berkaca-kaca, mempererat genggamannya. “Kamu.. bener-bener so sweet banget yah. Aku suka banget deh.”

Suka? Suka ‘suka’?

Wajahku memerah. “Aku juga suka.”

Wajah Cinta mendekat lagi. Kali ini bibirnya diarahkan pada bibirku, bukan tempat lain, bukan di rambut.

Aku siap menyambut bibirnya yang merekah itu.

Sesaat sebelum dia menyatukan bibirnya denganku, dia berbisik, “Tubmar and Cinta. Ada Tubmar ada Cinta. Rambut-rambut cinta.”

2 – 15/01/08
14.30

-CaSh-

Monday, January 21, 2008

2007 'til 2008

Huh!

A real big sigh for this 2007to2008 journey, a real exhausting journey.. but still, i feel really great to be able to pass the past year and enter this all new year.. 
It's nice to know that u're still exist and able to do more fight.

So,
i've passed Christmas, New Year Celebration, 1st semester of grade11, my not-so-fun holidays, etc.

  • First of all,
we'll start from the day before holidays begin..

Yah, klo ga sala inget, liburan dimulai tgl 20an, dah ga inget lg..
btw, gw liburan duluan seminggu drpd yg seharusnya, meninggalkan tman2ku yg merindukanku n yg pegi meninggalkanku dg ntn film ga ngajak2.. dasar pengkhianat!! (:P no offense)
blm ckup berkhianat, tman2ku yg ktnya sehidup seperjuangan, ga bls sms n dll (plit pulsa bgt d, trutama yg kepo satu ntu), trus telpon Christmas n New Year's Eve gw ga diangkat ma dua org kurang ajar (teganya, ga ada yg nelpon gw gtu loh!!)

bgitulah, liburan dimulai seminggu sblom seharusnya n rapot diambilin ma ii..
jadi, ktika kelas sdang berjuang mlawan kls2 laen (klas meeting), gw sdah berlibur (maap ga ikut menderita bersama)..

  • Kedua,
Pas Christmas, yg ga tralu kerasa Christmas nya, gw n yg laen2 ngelewatin kyk biasa, berhubung memang tidak merayakan..
n Christmas felt like no Christmas..
ga pa pa, ga terlalu berpengaruh juga, soalnya, dr awalnya, liburan kali ini emang ngebosenin..

Lima hari yang ada antara Christmas n New Year, gw udah meresapi betapa liburan kali ini begitu membosankan. Namun, berhubung bnyk kejutan2 yg bsa terjadi, gw n kawan2 keluar dr kebosanan itu n jalan2 yg lebi jauh n lebi mngasyikan lg.. n for the result, it has been much much much better..

Pas taon baruan, seperti kebanyakan org, kta2 countdown bareng ma org2 ga dikenal, ngeliat kembang api, triak2, desak2an..
just like New Year..
tapi, ramenya taon baru tuh bener2 krasa, smua tmpet rame, jalan aja susa, eskalator breaking down, liftnya juga, mo mkn enak musti ngantre.. n alhasil, kta2 pda bli mi instan kotak n makan itu di hotel..
quite nice..

  • Ketiga,
Selese taon baruan brarti liburan juga hampir selese n skola bakal jalan lagi..
smua kerutinan biasa bakal jalan lagi n ga ada lg yg namanya tidur subuh bangun siang..
Meskipun liburannya ckp membosankan, tetep aja, males bgt klo mikir liburan bakalan uda selese n balik skola lagi..
Namun, tntu saja gw masi inget temen2 pengkhianat-ku yg bkl gw temuin lgi pas msk skolah..
jd, liburan selese, masuk skola lg, n brharap liburan bkal dtg secepetnya..

  • Keempat,
Tgl 7 Jan, kta2 anak skolahan TarQ dah pada masuk skola hari pertama di taon baru ini..
ketemuan ma tmen2 lg, ngeliat gerbang skola lagi, ngeliat papan tulis lg, n stumpuk tugas yg dah siap dikerjain..
smuanya balik lagi jd kyk sblumnya n
'Welcome You Once Again in This Monoton School Life'

  • Terakhir,
Skrg tgl 21/01/08, n brarti udah dua minggu dr hr pertama skola n tiga minggu dr taon baru. beberapa hal di taon baru ini:
=) Resolusi gw buat berolahraga taon ini ---> gagal total (sampe skrg blm terlaksana)

=) Ingatan gw ---> makin lama makin para aja, gawat bgt d, gw mpe dikatain amnesia (hal2 kecil mpe hal2 gede, hampir smuanya bnyk yg udah gw ga inget lg, gw rasa saraf otak gw mulai meledak spulu spulu, bukan satu satu lagi..)

=) Tentu saja, berat badan nambah meski tinggi ga namba2 juga.. pipi, lengan, perut, paha, smuanya membengkak meski sblmnya sudah terjadi..

=) Jantung gw kyknya tetep para kyk dahulu kala, gw rasa gw punya penyakit entah apa itu yg nyangkut jantung..

=) Gw dkk meski tdk mlewati taon bru ini bersama, tetap akur n makin akrab (huehuehuehuehue.. geli d gw) ---> smua ntu ditunjukkan dgn ttp dilaksanakannya acara mingguan kita, bhkan kdang lebi, meskipun kadang2 merepotkan krn mengundang dri sndiri ke rumah org..

=) n macem2 hal laennya yg uda gw lupa, brhubung saraf2 ingatan gw pada rusak..

Anyway,
deket ato ngga ma u (mksdnya yg ngebaca tulisan ini), mhn maap klo ada sala2 y slama ini..
n makasi buat apa apa slama ini..

Have a Great Day!!

without wax,
Vialli

1 - 21/01/08
22.11

Sunday, November 25, 2007

Bulu Ketiak

Di copy-paste dari:
http://www.jawaban.com/news/health/detail.php?id_news=071023174510

Bulu Ketiak, Dicabut, Dicukur Atau Digunting?

Jangan pernah meremehkan bulu ketiak Anda! Dengan alasan estetika, mode, kenyamanan dan kebersihan, banyak perempuan yang mencabuti atau mencukur habis bulu ketiaknya. Aktivitas mencabut atau mencukur bulu ketiak kedengarannya memang sepele, tapi tahukah Anda, mencabut atau mencukur habis bulu ketiak ternyata memiliki bahaya yang jauh lebih besar pada kesehatan dibandingkan dengan manfaatnya.

Nah, sebelum mengenal lebih jauh mengenai bahayanya, sebaiknya kenali dulu dengan baik manfaat bulu ketiak ini:
Sarat fungsi melindungi
Selain untuk melindungi kulit dari kotoran dan bakteri. Bulu ketiak juga berfungsi untuk melindungi ketiak dari zat racun yang akan masuk dari luar tubuh. Tak hanya itu bulu ketiak berfungsi untuk melindungi organ vital yang berada di dekatnya, yaitu payudara.
Menimbulkan bau tak sedap
Pada ketiak terdapat kelenjar apocrine yang dihasilkan saat Anda berkeringat. Pada perempuan, aktivitas kelenjar ini akan hilang mulai saat memasuki masa menopause. Kelenjar ini mengandung asam lemak jenuh dengan cairan lebih kental dan berminyak. Sebenarnya, cairan yang dihasilkan oleh kelenjar apocrine ini hanya berbau lemak. Tapi karena di setiap helai bulu rambut mengandung bakteri yang berperan dalam proses pembusukan, akibatnya jika tidak dijaga kebersihannya bisa menimbulkan bau badan yang tak sedap.


Sarat bahaya
•· Dengan mencukur bulu ketiak, maka di ketiak akan timbul banyak luka kecil tak kasat mata. Pori-pori di daerah ketiak juga akan membesar. Ini memungkinkan toksin dan zat kimia dari berbagai produk seperti deodoran, bedak, dan krim akan dengan mudah memasuki kulit.
•· Perlu Anda ketahui bahwa daerah lipatan ketiak merupakan tempat berkumpulnya kelenjar getah bening. Kalenjar inilah yang bisa memudahkan transportasi racun dan zat kimia dari luar tubuh ke bagian dalam tubuh, terutama ke payudara. Sehingga tidaklah mengherankan jika mencabut atau mencukur bulu ketiak selalu dihubung-hubungkan dengan kanker payudara. Selain payudara, kemungkinan racun dari luar tubuh juga masuk ke bagian tubuh lainnya seperti paru-paru, jantung, dan otak.
•· Saat mencabut bulu ketiak, tanpa disadari biasanya terjadi luka dan pori-pori membesar. Luka inilah yang memudahkan timbulnya penyakit, seperti radang, bengkak atau bernanah kemudian menjadi infeksi. Kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang dan iritasi terjadi terus menerus, bisa menyebabkan mutasi sel. Nah, mutasi sel inilah yang juga memungkinkan terjadinya kanker payudara.

Lebih baik digunting
Menghilangkan bulu ketiak dengan cara apapun seperti waxes juga tidak disarankan karena resiko terjadinya kanker payudara sama besarnya dengan dicabut atau dicukur. Jadi lebih baik dipotong dengan menggunakan gunting kecil atau gunting khusus. Sebab dengan digunting resiko terjadinya luka dan pembesaran pori-pori tidak akan terjadi.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Di copy-paste dari:
http://www.jawaban.com/news/health/detail.php?id_news=070906174513&offx=5

Cukur Bulu Ketiak Rentan Kanker Payudara

Mencukur ketiak hingga licin memang telah menjadi bagian dari trend fashion, dan banyak kalangan perempuan yang memilih cara mencukur bulu ketiak untuk membuat tampilan manis saat mengenakan pakaian tanpa lengan. Namun, penelitian yang dilakukan Anderson Cancer Center di Amerika agaknya bisa mematahkan semangat kaum perempuan untuk tampil dengan ketiak tanpa bulu. Hasil penelitian itu menyebutkan perempuan yang rutin mencukur bulu ketiaknya hingga licin lebih rentan terkena kanker payudara 10 kali lipat dibandingkan dengan perempuan yang membiarkan bulu ketiaknya tumbuh apa adanya.


Adalah Dr Therese Bevers dari Anderson Cancer Center yang menyatakan bahwa mencukur bulu ketiak baik menggunakan lilin (wax) maupun alat lainnya akan menyebabkan banyak terjadi luka yang tak kasat mata. Selain itu, dampak dari pencukuran menyebabkan pori-pori di sekitar daerah itu ikut membesar. "Dengan kondisi kulit pori ketiak yang membesar dan menderita luka ringan memungkinkan terkena toksin dan zat kimia dari berbagai produk yang dioleskan ke ketiak seperti deodoran, bedak atau krim pengharum yang kemudian dengan mudah memasuki kulit," katanya.

Terlebih deodoran antiperspiran yang cairannya disemprotkan ke ketiak maupun dioleskan akan menambah mudahnya toksin masuk ke dalam kulit. Masalahnya, deodoran antiperspiran itu memiliki fungsi untuk mencegah pengeluaran keringat. Toksin yang seharusnya dikeluarkan melalui keringat, akhirnya tertahan dan menumpuk. Toksin yang tertimbun di sekitar payudara itu kemudian menjalar ke ruang terdekat yaitu payudara. Penumpukan toksin yang bertahun-tahun menjadi potensi terciptanya kanker.

Bevers menegaskan, bulu ketiak diciptakan Tuhan untuk melindungi wilayah itu dari zat racun yang hendak masuk dari luar tubuh. Karena di ketiak terdapat kelenjar limfa yang memudahkan transportasi racun, terutama ke payudara dan bagian tubuh lainnya. "Kemungkinan transportasi toksin ke bagian tubuh lain juga ada, sehingga bulu ketiak yang "gundul" juga membuka jalan untuk tumbuhnya kanker di bagian tubuh lain seperti paru-paru, jantung, dan otak, terutama bila perempuan itu memiliki "gen" atau keturunan terhadap kanker," katanya. Ketiak yang gundul juga menjadi tidak sehat bila pemiliknya tergolong malas menjaga kebersihan badannya. Ketiadaan bulu ketiak memungkinkan tumbuhnya bakteri dan kuman, yang kemudian tertimbun di pori-pori. Bila tak dibersihkan secara rutin bisa menimbulkan bisul atau abses.

Melihat hasil penelitian itu, dr Bevers menyimpulkan adanya koreksi antara kanker dengan mencukur bulu ketiak, yang sampelnya diperoleh dari pendataan terhadap wanita di Amerika Serikat dan Eropa selama 10 tahun terakhir. American Cancer Society menyebutkan pada tahun 2002 lalu saja menunjukkan ada sekitar 175.000 kasus baru untuk kanker payudara ganas di Amerika Serikat. Dari jumlah itu, 43.000 kasus diantaranya harus berakhir dengan kematian karena kanker payudara. Lebih jauh Bevers mengemukakan bahwa setiap rambut yang tumbuh pada tubuh manusia memang dapat menjaga organ tubuh vital yang ada di dekatnya. Namun, ironisnya banyak perempuan yang membuang bulu ketiak hanya karena alasan mode padahal di dekat ketiak terdapat organ yang sangat penting untuk dilindungi yaitu payudara.

Menurut Bevers, lelaki terbukti jauh lebih aman terhadap bahaya terkena kanker payudara, sebab kebanyakan lelaki tidak mencukur bulu ketiaknya. Ketika ditanya apakah menghilangkan bulu ketiak dengan cara lain seperti waxing dan mencabutnya juga meningkatkan kerentanan yang sama terhadap kanker. Ia menyebutkan, membuang bulu ketiak dengan mencukurnya tergolong paling berbahaya karena kemungkinan timbulnya luka-luka minor lebih besar. Namun cara lain seperti waxing justru memperbesar pori lebih besar daripada mencukur dengan cara dicabut. Intinya, kegiatan mencukur bulu ketiak bagaimanapun caranya tetap berbahaya. Bevers menyarankan agar perempuan tak perlu mencukur bulu ketiak, karena bahayanya sangat besar dibandingkan manfaatnya.


Wednesday, November 21, 2007

Prinsip (?)

Aku menapaki hidup,
Bukan merenungi hidup

Aku menjalani hari,
Bukan melewati hari

Aku memupuk asa,
Bukan menerus pasrah

Aku melihat mimpi,
Bukan mencari mimpi

Aku mengejar cita,
Bukan memimpi cita

Aku cukup menangis,
Bukan meratap gagal

Aku meninggalkan sesal,
Bukan membawa sesal

Aku melihat nyata,
Bukan terlelap fana

Aku mengambil butuh,
Bukan dibuai ingin

Aku berhadap jago,
Bukan dioceh muluk


2 – 7/8/07
22.55

Rasa Syukur

Kita (gw yakin kalo yg baca tulisan ini merupakan orang yg berkecukupan) bisa dibilang mampu, hidup layak, berkecukupan, bisa dibilang punya segala sesuatu yang memungkinkan kita buat hidup di dunia yang 'gampang gampang susah.

Kita sama-sama tau kalo ga semua orang bisa hidup berkecukupan kayak kita, banyak banget orang yang hidupnya susah, mau makan musti ngemis-ngemis, pake baju yang udah kotor banget, bisa dibilang kalo mereka itu hidup di kebalikan dunia kita, mereka hidup di dunia yang 'susah susah gampang'.

Kalo dibandingin, hidup kita jauh lebih enak dibandingin mereka, tapi kita susah banget buat bersyukur. Bukannya bersyukur, kita lebih sering marah-marah, kita lebih sering ngga puas, kita lebih sering ga menghargai hidup, kita sering sok menderita, padahal di luar sana, jutaan orang yang seumuran kita, lebih muda ato lebih tua, hidup lebih menderita, hidup lebih susah, hidup lebih ga layak dari pada kita.

Bukti?
- Setengah dari populasi di dunia, hampir tiga milliar orang, hidup dengan kurang dari dua dollar (kurang lebih Rp 18.000,-) per hari.
Bisa bayangin hal itu? Gw akuin kalo ngebayangin hal itu terjadi sama gw, gw bener-bener ga bisa. Bayangin aja, sekali makan aja (kalo di tempat yang biasa aja) paling ngga kita perlu ngeluarin duit kurang lebih Rp 10.000,- dan kalo kita makan paling ngga dua kali sehari, jadi paling ngga kita perlu Rp 20.000,- buat makan dan itu belum termasuk biaya lain-lain.
Dan apa yang kita lakukan? kita jarang bersyukur dan kadang-kadang, duit seratus perak yang jatoh ke tanah ga kita ambil, makan-makanan super mahal yang porsinya super dikit padahal rasanya ga beda jauh sama yang lebih murah, nghambur-hamburin uang cuman buat baju ato tas ato dompet mahal yang sebenernya bener-bener ga perlu karena di rumah udah ada setumpuk baju di laci.

- Hampir satu milliar orang yang memasuki abad ke 21 ga bisa baca buku ato nulis nama mereka.
Bisa bayangin kalo lu ga bisa baca ato ga bisa nulis nama sendiri? kalo gw bayangin itu, bakal banyak banget orang yang ngerendahin gw, ngga mandang gw, ngetawain gw, kasian sama gw karena gw ga bisa baca ato nulis. Di abad ke 21, semua alat udah canggih, dan komputer merupakan hal yang penting, gimana jadinya kalo kita ga bisa baca ato nulis?
Dan apa yang kita lakukan? Kita jarang banget bersyukur karena kita bisa baca dan nulis, kita nganggep itu hal yang remeh padahal diluar sana jutaan orang pengen bisa baca dan nulis. kita kadang-kadang suka males ke sekolah padahal dari sekolah kita belajar baca dan nulis.

- Jutaan wanita mengunakan waktu beberapa jam sehari untuk mengumpulkan air.
Bisa bayangin kalo dalam beberapa jam sehari, mau ngga mau, harus ngumpulin air karena punya kesulitan air? kalo gw sih bener-bener ga bisa ngebayangin buat ngabisin waktu berjam-jam untuk ngumpulin air karena ngumpulin air bukan hal yang gampang, apalagi di tempat yang bener-bener susah buat dapet air.
Dan apa yang kita lakukan? Kita jarang banget bersyukur bisa dapet air bersih setiap hari, langsung disalurin sama PAM, tanpa perlu ngangkut-ngangkut air lagi, tanpa perlu mikir berapa jam yang diperluin buat ngangkut air. Kadang-kadang, kita malah sering banget ngebuang-buang air bersih buat nyuci tangan lama banget padahal tangan kita ga kotor-kotor banget, kita sering banget ngebuang-buang air pas mandi (bahkan kita mandi bisa hampir 1/2 jam).

- Jutaan orang kelaparan di dunia ini.
Bisa bayangin kalo kita kelaperan? Rasanya pasti nyiksa, ga dapet makan sampe perut melilit-lilit, apalagi kalo ngeliat orang laen lewat di depen kita bawa makanan.
Dan apa yang kita lakukan? Kita jarang banget bersyukur karena bisa dapet makanan yang layak makan dan bisa ngebuat perut kenyang. kadang-kadang kita sering ngeluh kalo makanan itu terlalu dikit, sering ngga mau ngabisin makanan itu padahal makanannya cuman tinggal sesuap, kita ga mau makan karena ga sesuai selera. Masih mending kalo punya penyakit bulimia ato anoreksia.

(masih banyak bukti-bukti lainnya)


Jadi, sebenernya kita itu sama sekali ga pantes buat ngeluh, ngerasa ga puas, ngerasa menderita. Sebaliknya, kita harusnya bersyukur karena punya banyak hal, kita ini special karena kita hidup berkecukupan dan karena kita hidup berkecukupan, paling ngga kita bisa ngebantu mereka yang ga berkecukupan untuk hidup lebih baik lagi, paling ngga ngebantu dengan mulai belajar buat mensyukuri segala sesuatunya.


For more facts about poverty:
http://www.globalissues.org/TradeRelated/Facts.asp


buat 'orang yang tau kalo ini buat dia':
gw ga ngambil ide dr siapapun dan ini murni dari ide sendiri jd klo ada yg sama2, mohon maap!! tq!!


Addition:
Ngeluh merupakan hal yang wajar yg dilakukan oleh manusia tapi apakah ngga malu kalo kita yang bisa dibilang hidup berkecukupan ini ngeluh? Apakah ga lebih pantes kalo kita bersyukur dan bukannya ngeluh? apalagi kalo ngeliat banyaknya orang yang sebenernya lebih pantes ngeluh daripada kita.

Secret

What a secret is when no one's keeping it and everybody knows it.
Keep the mouth close, keep the tongue still.
Don't say anything that mustn’t be spoken.
Keep it close, keep it safe.
There isn't one to believe when one has been scatter it.

5 – 24/8/07
18.22

Silence

Kadang-kadang, ada waktu dimana kita perlu ngomong banyak banget, entah buat menghasut orang biar dia mau setuju sama pendapat kita, buat ngeluarin argumen-argumen kita, buat ngeluarin pendapat-pendapat kita yang ada di otak kita tapi kadang-kadang, semua kata-kata harus dihapus dan cukup disimpen dalam hati.

Pada saat-saat tertentu, kata-kata yang keluar dari mulut kita malah bakal terdengar non sense, ga ada gunanya, kekanak-kanakan, kelihatan goblok, dan penuh kebohongan.
Misalnya aja pas orang yang udah sekarat mau mati dan disampingnya ada orang yang paling di sayang dan orang itu malah nangis kenceng-kenceng dan ngomong kalo semuanya will be alright padahal ga ada yg bakal jd alright, omongan org itu bakal terasa bener-bener ngebual n cuma ngebuat harapan kosong aja yang semua org tau klo itu ngga mungkin, dan ngebuat orang yg sekarat malah makin susah n yg terjadi bukannya temennya yg nenangin org sekarat tp malah sebaliknya.
Trus pas seseorang lg marah besar ato habis ngelakuin sesuatu yg salah ato lg kecewa berat, beberapa orang yg lg kayak begitu bakal ngomel-ngomel ga jelas, nyalah2in diri sendiri ato orang disekitar dia sampe bikin orang laen yg denger jadi kesel sama dia padahal masih banyak yg bisa dilakuin dr pd ngomel-ngomel ga jelas.

Jadi, sebaiknya, dr pada ngelakuin hal-hal yang kayak gitu, ngeluarin beribu kata buat menyingkir dari masalah yang ada, kenapa kita ga mundur selangkah, hening buat sesaat, ngerenungin diri sendiri dalam keadaan tenang, ga ada suara sama sekali kecuali suara hati dan pikiran kita sendiri?

Dengan begitu, semua yang ada bisa direnungin dan dihayati juga lebih dipahami/dimengerti, bukannya dihindari/dijauhi karna diri kita ngerasa ga siap dengan semua hal itu.

Some people say, "Silence is gold."

Tuesday, November 20, 2007

Life

Life is an option.
When you don't want to live anymore, you may just cut it off and being dead.
But when you want to face it, you may just face the challenge that waiting for you and when you find that the challenge just to hard for you, you may just runaway.

But when you runaway or don't want to live, you won't know what things that will found by you after you finish the challenge, either bad or good. But the sure thing is that you will have more experience.

Either the bad experience that will make you upset, desperate, despair, and don't want to face anything more,
or a good experience that will give you more confidence, power, bravery to face other challenge.

Some people say, "Experience is the best teacher".
? - ?/?/200?
??.??

Saturday, November 10, 2007

i'm getting crazy

I don't really know what i'm thinking right now, doing all this typing things and stuff at this 3.09 am, i really don't know.

What i'm sure is that i'm getting crazy coz all things make me going crazy.

First of all, i felt and feel that i'm so dumb. And my sis writing isn't make me better, my so-called friend makes me even worse, and the worst is myself letting me myself feel dumb.

Second, i felt that i was, maybe i am, dying. All the heart's going to fall down or things, tummy's getting too fat, eating too much junk food, doing computer too long, abuse by so-called friend. Once, which is yesterday (9/11/07), i'm feeling bright and shiny (got it from Grey's Anatomy) and that's happening because i've a nice sleep and today turned out to be not so good because i was and am not having a nice sleep. It makes things worse that i won't get a better sleep soon. The worst is myself letting me myself feel that i am sick.

Third, i'm losing all my motivation to go to school. I don't mean that i usually like to go to school, study, doing homework, stuff. What i mean is that i don't really understand anymore, why must we go to school when there's nothing more that i think is useful from the teacher to teach to us. Is there no more reason than having a piece of certificate that says that you're already graduated. This is being the lowest motivation level ever that i've ever get since before. The worst is myself letting me myself feel that there's actually nothing more that a piece of certificate.

7 - 11/11/07
3.27

Apa-apa

Disana, entah bagaimana, selalu ada apa-apa. Tidak ada yang tidak apa-apa, bahkan ketika kamu berkata tak apa-apa.

Apa yang salah dengan apa-apa? Kenapa semua orang khawatir pada sesuatu yang biasa yang disebut apa-apa? Tidakkah wajar memiliki apa-apa untuk dikhawatirkan? Bukankah semua orang memilikinya? Kenapa orang bertanya kepada lainnya apakah ada apa-apa? Tidakkah dia tidak tahu bahwa semua orang pasti mengalami apa-apa?

Mereka bilang, kita adalah makhluk sempurna. Sempurna bukan berarti tidak ada apa-apa. Bukan siapa-siapa bukan berarti tidak ada apa-apa. Disana selalu ada apa-apa. Sebab semua orang selalu bertanya-tanya, apa-apa apa yang dapat mereka apakan. Dan menjadi sempurna berarti disana makin banyak yang harus dilalui untuk melewati terpaan harapan dari orang disekitar. Dan menjadi bukan siapa-siapa berarti makin banyak yang harus dilalui untuk menjadi siapa-siapa. Dan entah menjadi sempurna atau menjadi bukan siapa-siapa, dia harus siap dibedakan, mereka harus siap untuk melewati semua hal yang akan datang, sebab semua yang datang tidak akan berakhir hingga waktumu habis atau dirimu menyerah dan kalah karena apa-apa yang ternyata dimiliki setiap orang.

7 - 11/11/07
2.54