Sunday, February 1, 2009
Masa Reformasi
· Krisis politik
Pemerintah orde baru, meskipun mampu mengangkat Indonesia dari keterpurukan ekonomi dan memberikan kemajuan, gagal dalam membina kehidupan politik yang demokratis, terbuka, adil, dan jujur. Pemerintah bersikap otoriter, tertutup, dan personal. Masyarakat yang memberikan kritik sangat mudah dituduh sebagai anti-pemerintah, menghina kepala negara, anti-Pancasila, dan subversive. Akibatnya, kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis tidak pernah terwujud dan Golkar yang menjadi partai terbesar pada masa itu diperalat oleh pemerintah orde baru untuk mengamankan kehendak penguasa.
Praktik KKN merebak di tubuh pemerintahan dan tidak mampu dicegah karena banyak pejabat orba yang berada di dalamnya. Dan anggota MPR/DPR tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan benar karena keanggotaannya ditentukan dan mendapat restu dari penguasa, sehingga banyak anggota yang bersikap ABS daripada kritis.
Sikap yang otoriter, tertutup, tidak demokratis, serta merebaknya KKN menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat. Gejala ini terlihat pada pemilu 1992 ketika suara Golkar berkurang cukup banyak. Sejak 1996, ketidakpuasan masyarakat terhadap orba mulai terbuka. Muncul tokoh vokal Amien Rais serta munculnya gerakan mahasiswa semakin memperbesar keberanian masyarakat untuk melakukan kritik terhadap pemerintahan orba.
Masalah dwifungsi ABRI, KKN, praktik monopoli serta 5 paket UU politik adalah masalah yang menjadi sorotan tajam para mahasiswa pada saat itu. Apalagi setelah Soeharto terpilih lagi sebagai Presiden RI 1998-2003, suara menentangnya makin meluas dimana-mana.
Puncak perjuangan para mahasiswa terjadi ketika berhasil menduduki gedung MPR/DPR pada bulan Mei 1998. Karena tekanan yang luar biasa dari para mahasiswa, tanggal 21 Mei 1998 Presiden menyatakan berhenti dan diganti oleh wakilnya BJ Habibie.
· Krisis ekonomi
Krisis moneter yang menimpa dunia dan Asia Tenggara telah merembet ke Indonesia, sejak Juli 1997, Indonesia mulai terkena krisis tersebut. Nilai rupiah terhadap dollar Amerika terus menurun. Akibat krisis tersebut, banyak perusahaan ditutup, sehingga banyak pengangguran dimana-mana, jumlah kemiskinan bertambah. Selain itu, daya beli menjadi rendah dan sulit mencari bahan-bahan kebutuhan pokok.
Sejalan dengan itu, pemerintah melikuidasi bank-bank yang bermasalah serta mengeluarkan KLBI (Kredit Likuiditas Bank Indonesia) untuk menyehatkan bank-bank yang ada di bawah pembinaan BPPN. Dalam praktiknya, terjadi manipulasi besar-besaran dalam KLBI sehingga pemerintah harus menanggung beban keuangan yang semakin besar. Selain itu, kepercayaan dunia internasional semakin berkurang sejalan dengan banyaknya perusahaan swasta yang tak mampu membayar utang luar negeri yang telah jatuh tempo. Untuk mengatasinya, pemerintah membentuk tim ekonomi untuk membicarakan utang-utang swasta yang telah jatuh tempo. Sementara itu, beban kehidupan masyarakat makin berat ketika pemerintah tanggal 12 Mei 1998 mengumumkan kenaikan BBM dan ongkos angkutan. Dengan itu, barang kebutuhan ikut naik dan masyarakat semakin sulit memenuhi kebutuhan hidup.
· Krisis sosial
Krisis politik dan ekonomi mendorong munculnya krisis dalam bidang sosial. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah serta krisis ekonomi yang ada mendorong munculnya perilaku yang negatif dalam masyarakat. Misalnya: perkelahian antara pelajar, budaya menghujat, narkoba, kerusuhan sosial di Kalimantan Barat, pembantaian dengan isu dukun santet di Banyuwangi dan Boyolali serta kerusuhan 13-14 Mei 1998 yang terjadi di Jakarta dan Solo.
Akibat kerusuhan di Jakarta dan Solo tanggal 13, 14, dan 15 Mei 1998, perekonomian kedua kota tersebut lumpuh untuk beberapa waktu karena banyak swalayan, pertokoan, pabrik dibakar, dirusak dan dijarah massa. Hal tersebut menyebabkan angka pengangguran membengkak.
Beban masyarakat semakin berat serta tidak ada kepastian tentang kapan berakhirnya krisis tersebut sehingga menyebabkan masyarakat frustasi. Kondisi tersebut membahayakan karena mudah diadu domba, mudah marah, dan mudah dihasut untuk melakukan tindakan anarkis.
2. Kronologi mundur/berakhirnya kekuasaan Soeharto:
5 Maret 1998
Dua puluh mahasiswa Universitas Indonesia mendatangi Gedung DPR/MPR untuk menyatakan penolakan terhadap pidato pertanggungjawaban presiden yang disampaikan pada Sidang Umum MPR dan menyerahkan agenda reformasi nasional. Mereka diterima Fraksi ABRI
11 Maret 1998
Soeharto dan BJ Habibie disumpah menjadi Presiden dan Wakil Presiden
14 Maret 1998
Soeharto mengumumkan kabinet baru yang dinamai Kabinet Pembangunan VII.
15 April 1998
Soeharto meminta mahasiswa mengakhiri protes dan kembali ke kampus karena sepanjang bulan ini mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi swasta dan negeri melakukan unjukrasa menuntut dilakukannya reformasi politik.
18 April 1998
Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI Jendral Purn. Wiranto dan 14 menteri Kabinet Pembangunan VII mengadakan dialog dengan mahasiswa di Pekan Raya Jakarta namun cukup banyak perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang menolak dialog tersebut.
1 Mei 1998
Soeharto melalui Menteri Dalam Negeri Hartono dan Menteri Penerangan Alwi Dachlan mengatakan bahwa reformasi baru bisa dimulai tahun 2003.
2 Mei 1998
Pernyataan itu diralat dan kemudian dinyatakan bahwa Soeharto mengatakan reformasi bisa dilakukan sejak sekarang (tahun 1998).
4 Mei 1998
Mahasiswa di Medan, Bandung dan Yogyakarta menyambut kenaikan harga bahan bakar minyak (2 Mei 1998) dengan demonstrasi besar-besaran. Demonstrasi itu berubah menjadi kerusuhan saat para demonstran terlibat bentrok dengan petugas keamanan. Di Universitas Pasundan Bandung, misalnya, 16 mahasiswa luka akibat bentrokan tersebut.
5 Mei 1998
Demonstrasi mahasiswa besar - besaran terjadi di Medan yang berujung pada kerusuhan.
9 Mei 1998
Soeharto berangkat ke Kairo, Mesir untuk menghadiri pertemuan KTT G -15. Ini merupakan lawatan terakhirnya keluar negeri sebagai Presiden RI.
12 Mei 1998
Aparat keamanan menembak empat mahasiswa Trisakti yang berdemonstrasi secara damai. Keempat mahasiswa tersebut ditembak saat berada di halaman kampus.
13 Mei 1998
Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi datang ke Kampus Trisakti untuk menyatakan duka cita. Kegiatan itu diwarnai kerusuhan.
14 Mei 1998
Soeharto seperti dikutip koran, mengatakan bersedia mengundurkan diri jika rakyat menginginkan. Ia mengatakan itu di depan masyarakat Indonesia di Kairo. Sementara itu kerusuhan dan penjarahan terjadi di beberapa pusat perbelanjaan di Jabotabek seperti Supermarket Hero, Super Indo, Makro, Goro, Ramayana dan Borobudur. Beberapa dari bangunan pusat perbelanjaan itu dirusak dan dibakar. Sekitar 500 orang meninggal dunia akibat kebakaran yang terjadi selama kerusuhan terjadi.
15 Mei 1998
Soeharto tiba di Indonesia setelah memperpendek kunjungannya di Kairo. Ia membantah telah mengatakan bersedia mengundurkan diri. Suasana Jakarta masih mencekam. Toko-toko banyak ditutup. Sebagian warga pun masih takut keluar rumah.
16 Mei 1998
Warga asing berbondong-bondong kembali ke negeri mereka. Suasana di Jabotabek masih mencekam.
19 Mei 1998
Soeharto memanggil sembilan tokoh Islam seperti Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Malik Fajar, dan KH Ali Yafie. Dalam pertemuan yang berlangsung selama hampir 2,5 jam (molor dari rencana semula yang hanya 30 menit) itu para tokoh membeberkan situasi terakhir, dimana eleman masyarakat dan mahasiswa tetap menginginkan Soeharto mundur.
Permintaan tersebut ditolak Soeharto. Ia lalu mengajukan pembentukan Komite Reformasi. Pada saat itu Soeharto menegaskan bahwa ia tak mau dipilih lagi menjadi presiden. Namun hal itu tidak mampu meredam aksi massa, mahasiswa yang datang ke Gedung MPR untuk berunjukrasa semakin banyak.
Sementara itu Amien Rais mengajak massa mendatangi Lapangan Monumen Nasional untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional.
20 Mei 1998
Jalur jalan menuju Lapangan Monumen Nasional diblokade petugas dengan pagar kawat berduri untuk mencegah massa masuk ke komplek Monumen Nasional namun pengerahan massa tak jadi dilakukan. Pada dinihari Amien Rais meminta massa tak datang ke Lapangan Monumen Nasional karena ia khawatir kegiatan itu akan menelan korban jiwa. Sementara ribuan mahasiswa tetap bertahan dan semakin banyak berdatangan ke gedung MPR / DPR. Mereka terus mendesak agar Soeharto mundur.
21 Mei 1998
Di Istana Merdeka, Kamis, pukul 09.05 Soeharto mengumumkan mundur dari kursi Presiden dan BJ. Habibie disumpah menjadi Presiden RI ketiga.
3. Indonesia masa pemerintahan B.J. Habibie:
Kebijakan-kebijakan pada masa Habibie:
· Membentuk Kabinet Reformasi Pembangunan
Dibentuk tanggal 22 Mei 1998, dengan jumlah menteri 16 orang yang merupakan perwakilan dari Golkar, PPP, dan PDI.
· Mengadakan reformasi dalam bidang politik
Habibie berusaha menciptakan politik yang transparan, mengadakan pemilu yang bebas, rahasia, jujur, adil, membebaskan tahanan politik, dan mencabut larangan berdirinya Serikat Buruh Independen.
Kebebasan menyampaikan pendapat.
Kebebasan menyampaikan pendapat diberikan asal tetap berpedoman pada aturan yang ada yaitu UU No.9 tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum.
· Refomasi dalam bidang hukum
Target reformasinya yaitu subtansi hukum, aparatur penegak hukum yang bersih dan berwibawa, dan instansi peradilan yang independen. Pada masa orde baru, hukum hanya berlaku pada rakyat kecil saja dan penguasa kebal hukum sehingga sulit bagi masyarakat kecil untuk mendapatkan keadilan bila berhubungan dengan penguasa.
· Mengatasi masalah dwifungsi ABRI
Jendral TNI Wiranto mengatakan bahwa ABRI akan mengadakan reposisi secara bertahap sesuai dengan tuntutan masyarakat, secara bertahap akan mundur dari area politik dan akan memusatkan perhatian pada pertahanan negara. Anggota yang masih menduduki jabatan birokrasi diperintahkan untuk memilih kembali kesatuan ABRI atau pensiun dari militer untuk berkarier di sipil. Dari hal tersebut, keanggotaan ABRI dalam DPR/MPR makin berkurang dan akhirnya ditiadakan.
· Mengadakan sidang istimewa
Sidang tanggal 10-13 November 1998 yang diadakan MPR berhasil menetapkan 12 ketetapan.
· Mengadakan pemilu tahun 1999
Pelaksanaan pemilu dilakukan dengan asas LUBER (langsung, bebas, rahasia) dan JURDIL (jujur dan adil).
Masalah yang ada yaitu ditolaknya pertanggung jawaban Presiden Habibie yang disampaikan pada sidang umum MPR tahun1999 sehingga beliau merasa bahwa kesempatan untuk mencalonkan diri sebagai presiden lagi sangat kecil dan kemudian dirinya tidak mencalonkan diri pada pemilu yang dilaksanakan.
4. Indonesia masa pemerintahan Abdurrahman Wahid:
Kebijakan-kebijakan pada masa Gus Dur:
· Meneruskan kehidupan yang demokratis seperti pemerintahan sebelumnya (memberikan kebebasan berpendapat di kalangan masyarakat minoritas, kebebasan beragama, memperbolehkan kembali penyelenggaraan budaya tiong hua).
· Merestrukturisasi lembaga pemerintahan seperti menghapus departemen yang dianggapnya tidak efesien (menghilangkan departemen penerangan dan sosial untuk mengurangi pengeluaran anggaran, membentuk Dewan Keamanan Ekonomi Nasional).
· Ingin memanfaatkan jabatannya sebagai Panglima Tertinggi dalam militer dengan mencopot Kapolri yang tidak sejalan dengan keinginan Gus Dur.
Masalah yang ada:
· Gus Dur tidak mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan TNI-Polri.
· Masalah dana non-budgeter Bulog dan Bruneigate yang dipermasalahkan oleh anggota DPR.
· Dekrit Gus Dur tanggal 22 Juli 2001 yang berisikan pembaharuan DPR dan MPR serta pembubaran Golkar. Hal tersebut tidak mendapat dukungan dari TNI, Polri dan partai politik serta masyarakat sehingga dekrit tersebut malah mempercepat kejatuhannya. Dan sidang istimewa 23 Juli 2001 menuntutnya diturunkan dari jabatan.
5. Indonesia masa pemerintahan Megawati Soekarno Putri:
Kebijakan-kebijakan pada masa Megawati:
· Memilih dan Menetapkan
Ditempuh dengan meningkatkan kerukunan antar elemen bangsa dan menjaga persatuan dan kesatuan. Upaya ini terganggu karena peristiwa Bom Bali yang mengakibatkan kepercayaan dunia internasional berkurang.
· Membangun tatanan politik yang baru
Diwujudkan dengan dikeluarkannya UU tentang pemilu, susunan dan kedudukan MPR/DPR, dan pemilihan presiden dan wapres.
· Menjaga keutuhan NKRI
Setiap usaha yang mengancam keutuhan NKRI ditindak tegas seperti kasus Aceh, Ambon, Papua, Poso. Hal tersebut diberikan perhatian khusus karena peristiwa lepasnya Timor Timur dari RI.
· Melanjutkan amandemen UUD 1945
Dilakukan agar lebih sesuai dengan dinamika dan perkembangan zaman.
· Meluruskan otonomi daerah
Keluarnya UU tentang otonomi daerah menimbulkan penafsiran yang berbeda tentang pelaksanaan otonomi daerah. Karena itu, pelurusan dilakukan dengan pembinaan terhadap daerah-daerah.
Tidak ada masalah yang berarti dalam masa pemerintahan Megawati kecuali peristiwa Bom Bali dan perebutan pulan Ligitan dan Sipadan.
6. Indonesia masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono:
Kebijakan-kebijakan pada masa SBY:
· Anggaran pendidikan ditingkatkan menjadi 20% dari keseluruhan APBN.
· Konversi minyak tanah ke gas.
· Memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai).
· Pembayaran utang secara bertahap kepada badan PBB.
· Buy back saham BUMN
· Pelayanan UKM (Usaha Kecil Menengah) bagi rakyat kecil.
· Subsidi BBM.
· Memudahkan investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.
· Meningkatkan sektor pariswisata dengan mencanangkan "Visit Indonesia 2008".
· Pemberian bibit unggul pada petani.
· Pemberantasan korupsi melalui KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).
Masalah yang ada:
· Masalah pembangunan ekonomi yang ala kadarnya sangat memperihatinkan karena tidak tampak strategi yang bisa membuat perekonomian Indonesia kembali bergairah. Angka pengangguran dan kemiskinan tetap tinggi.
· Penanganan bencana alam yang datang bertubi-tubi berjalan lambat dan sangat tidak profesional. Bisa dipahami bahwa bencana datang tidak diundang dan terjadi begitu cepat sehingga korban kematian dan materi tidak terhindarkan. Satu-satunya unit pemerintah yang tampak efisien adalah Badan Sar Nasional yang saat inipun terlihat kedodoran karena sumber daya yang terbatas. Sementara itu, pembentukan komisi dll hanya menjadi pemborosan yang luar biasa.
· Masalah kepemimpinan SBY dan JK yang sangat memperihatinkan. SBY yang ‘sok’ kalem dan berwibawa dikhawatirkan berhati pengecut dan selalu cari aman, sedangkan JK yang sok profesional dikhawatirkan penuh tipu muslihat dan agenda kepentingan kelompok. Rakyat Indonesia sudah melihat dan memahami hal tersebut. Selain itu, ketidakkompakan anggota kabinet menjadi nilai negatif yang besar.
· Masalah politik dan keamanan cukup stabil dan tampak konsolidasi demokrasi dan keberhasilan pilkada Aceh menjadi catatan prestasi. Namun, potensi demokrasi ini belum menghasilkan sistem yang pro-rakyat dan mampu memajukan kesejahteraan bangsa Indonesia. Tetapi malah mengubah arah demokrasi bukan untuk rakyat melainkan untuk kekuatan kelompok.
· Masalah korupsi. Mulai dari dasar hukumnya sampai proses peradilan, terjadi perdebatan yang semakin mempersulit pembersihan Republik Indonesia dari koruptor-koruptor perampok kekayaan bangsa Indonesia. Misalnya pernyataan JK yang menganggap upaya pemberantasan korupsi mulai terasa menghambat pembangunan.
· Masalah politik luar negeri. Indonesia terjebak dalam politk luar negeri ‘Pahlawan Kesiangan’. Dalam kasus Nuklir Korea Utara dan dalam kasus-kasus di Timur Tengah, utusan khusus tidak melakukan apa-apa. Indonesia juga sangat sulit bergerak diantara kepentingan Arab Saudi dan Iran. Selain itu, ikut serta dalam masalah Irak jelas merupakan dikte Amerika Serikat yang diamini oleh korps Deplu. Juga desakan peranan Indonesia dalam urusan dalam negeri Myanmar akan semakin menyulitkan Indonesia di masa mendatang. Singkatnya, Indonesia bukan lagi negara yang bebas dan aktif karena lebih condong ke Amerika Serikat.
7. Dampak reformasi bagi rakyat Indonesia:
· Pemerintahan orde baru jatuh dan muncul era reformasi. Namun reformasi dan keterbukaan tidak diikuti dengan suasana tenang, aman, dan tentram dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Konflik antar kelompok etnis bermunculan di berbagai daerah seperti Kalimantan Barat. Konflik tersebut dilatarbelakangi oleh masalah-masalah sosial, ekonomi dan agama.
· Rakyat sulit membedakan apakah sang pejabat bertindak sebagai eksekutif atau pimpinan partai politik karena adanya perangkapan jabatan yang membuat pejabat bersangkutan tidak dapat berkonsentrasi penuh pada jabatan publik yang diembannya.
· Banyak kasus muncul ke permukaan yang berkaitan dengan pemberian batas yang tegas pada teritorial masing-masing wilayah, seperti penerapan otonomi pengelolaan wilayah pengairan.
· Pemerintah tidak lagi otoriter dan terjadi demokratisasi di bidang politik (misalnya: munculnya parpol-parpol baru), ekonomi (misalnya: munculnya badan-badan umum milik swasta, tidak lagi melulu milik negara), dan sosial (misalnya: rakyat berhak memberikan tanggapan dan kritik terhadap pemerintah).
· Peranan militer di dalam bidang politik pemerintahan terus dikurangi (sejak 2004, wakil militer di MPR/DPR dihapus).
8. Latar belakang munculnya reformasi:
· Bidang politik
Munculnya reformasi di bidang politik disebabkan oleh adanya KKN, ketidakadilan dalam bidang hukum, pemerintahan orde baru yang otoriter (tidak demokratis) dan tertutup, besarnya peranan militer dalam orde baru, adanya 5 paket UU serta munculnya demo mahasiswa yang menginginkan pembaharuan di segala bidang.
· Bidang ekonomi
Munculnya reformasi di bidang ekonomi disebabkan oleh adanya sistem monopoli di bidang perdagangan, jasa, dan usaha. Pada masa orde baru, orang-orang yang dekat dengan pemerintah akan mudah mendapatkan fasilitas dan kesempatan, bahkan mampu berbuat apa saja demi keberhasilan usahanya.
Selain itu juga disebabkan oleh krisis moneter. Krisis tersebut membawa dampak yang luas bagi kehidupan manusia dan bidang usaha. Banyak perusahaan yang ditutup sehingga terjadi PHK dimana-mana dan menyebabkan angka pengangguran meningkat tajam serta muncul kemiskinan dimana-mana dan krisis perbankan.
Hal-hal tersebut membuat perlu dilakukannya tindakan-tindakan yang cepat dan tepat untuk mengatasinya.
· Bidang sosial
Krisis ekonomi dan politik pada masa pemerintahan orde baru berdampak pada kehidupan sosial di Indonesia. Muncul peristiwa pembunuhan dukun santet di Situbondo, perang saudara di Ambon, peristiwa Sampit, beredar luasnya narkoba, meningkatnya kejahatan, pembunuhan, pelacuran. Hal tersebut membuat diperlukannya tindakan yang cepat dan tepat.
Bersatu dalam (Kerapuhan) Kekuatan
Misteri Peristiwa G 30 S
Judul: Epilog Kudeta G 30 S/PKI
“Siapa Melawan Siapa?”
Penulis: Drs. Husnu Mufid, M.Pd.I
Penerbit: JP Books, Surabaya
Cetakan: I - Maret 2008
Tebal: xii + 100 halaman
Gerakan 30 September serta peristiwa kelanjutannya (Surat Perintah Sebelas Maret/Supersemar) hingga saat ini masih merupakan sebuah tanda tanya besar. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi atau yang tidak terjadi, siapa dan hal apa saja yang sesungguhnya terlibat, untuk apa, dan mengapa. Peristiwa tersebut masih merupakan bayang-bayang yang belum memiliki kejelasan pasti.
Berbeda dengan buku-buku lainnya yang membahas mengenai peristiwa tersebut dalam lembaran-lembaran halaman yang tebal, buku ini membahasnya secara ringkas bagi pembaca awam yang ingin sekedar tahu atau untuk menambah sedikit tambahan perspektif dalam peristiwa G 30 S tersebut.
Buku ini menceritakan menceritakan mengenai hal-hal yang berkenaan dengan G 30 S dalam 100 halaman yang dibagi menjadi 4 bab. Dimulai dengan menjelaskan mengenai proses kudeta 30 September; yang meliputi kekuatan Pancasila kontra G 30 S/PKI, penyelesaiannya yang terkatung-katung, dan interpretasi atas kudeta G 30 S.
Di bab pertama tersebut, penulis menyajikan hal-hal kontroversial yang selalu muncul ketika membahas mengenai G 30 S, seperti siapa yang seharusnya bertanggung jawab dan mengenai penyelesaiannya yang tidak jelas. Namun, berbeda dengan penulis-penulis lainnya yang mengarahkan ‘tuduhan’ terhadap Soeharto, hal yang perlu diperhatikan yaitu sudut pandang baru yang dikeluarkan oleh penulis yaitu apakah sebenarnya Presiden Soekarno-lah yang melakukannya.
Hal tersebut sangat menarik karena pada umumnya, Presiden Soekarno ditempatkan pada posisi ‘korban’ dalam peristiwa ini. Meskipun begitu, hipotesis tersebut tidaklah tidak mungkin terjadi. Apalagi, bila ditelaah lebih dalam akan terasa masuk akal karena PKI merupakan partai yang dekat dengan dirinya dan banyak kemungkinan bahwa dirinya sudah terhasut PKI dan kemudian melakukan gerakan tersebut demi mempertahankan kedudukannya yang terancam tergeser pada masa itu.
Dilihat dari sisi lain, akan terasa janggal karena mengapa dirinya yang telah menyusun ‘segalanya’ namun ternyata malah dirinyalah yang dijungkirbalikkan oleh bawahannya sendiri. Apakah Soekarno adalah seorang perencana yang sebegitu buruknya hingga tidak memikirkan ‘efek samping’ dari apa yang telah direncanakannya?
Meskipun menarik untuk dibahas, penulis tidak merincikan secara jelas bagaimana dan apa yang dimaksudkannya melalui hipotesisnya tersebut sehingga pembaca perlu merincikannya sendiri tanpa mengetahui apa yang sebenarnya ada dalam pikiran sang penulis. Malah, berbeda dengan tujuan awal pembahasannya, penulis menyimpang kembali ke Soeharto serta masalah CIA yang menyebarkan desas-desus Dewan Jenderal.
Di bagian kedua, diterangkan mengenai awal yang menentukan dari gerakan aksi massa, tumbangnya orde lama hingga lahirnya orde baru; serta di bagian ketiga mengenai lahirnya Supersemar. Gerakan G 30 S tidak pernah terlepas dari rentetan kejadian-kejadian selanjutnya dan hal tersebut turut serta dijelaskan secara ringkas dan cukup padat untuk dipahami.
Gerakan massa atas peristiwa G 30 S tersebut bermacam-macam hingga akhirnya mengakhiri orde lama dengan Supersemar dan memulai orde baru. Dari sana dapat terlihat bagaimana rapuhnya bangsa Indonesia yang dapat dengan mudahnya menerima pemimpin baru tanpa adanya kejelasan pemindahan kekuasaan. Tidak adanya tuntutan akan kejelasan Supersemar tersebut menandakan ketidakpedulian masyarakat di luar masalah kesejahteraan mereka.
Dan patut disesali bahwa tuntutan akan kejelasan Supersemar baru dilancarkan setelah peristiwa tersebut berselang lama sehingga pelaku-pelaku yang terlibat sudah sulit disatukan untuk ‘ditanyai’ dan surat itu sendiri tidak jelas berada di tangan siapa karena pastilah surat yang membawa banyak kontroversi tersebut sudah ‘diamankan’ oleh pihak yang merasa dirugikan olehnya.
Tanpa disadari, kejadian ketidakjelasan Supersemar menjadi misteri yang tidak terpecahkan meskipun banyak yang mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya berada di dalam surat tersebut. Yang berbeda dalam buku ini adalah sang penulis berusaha menjelaskan mengenai surat tersebut dan bahkan melampirkan isi surat tersebut dalam halaman-halaman akhir buku tersebut. Namun tidak ada kejelasan mengenai surat yang dilampirkan seperti dari mana sumber asal didapatkannya data mengenai Supersemar tersebut.
Yang patut disayangkan, buku ini tidak disertai kesimpulan dari sang penulis padahal salah satu aspek penting yang diperlukan dalam menyusun suatu buku ilmiah adalah diperlukannya suatu kesimpulan di bagian akhir sehingga pokok-pokok pikiran yang ada mampu disatukan serta tidak ada kesalahpahaman antara pembaca dan penulis.
Mengenai hal lainnya, beberapa hal dapat membuat pembaca merasa bosan dan ‘tertipu’. Konsep bagus yang dimiliki penulis tidak mampu dirangkum dalam buku tersebut karena terlihat kurang matang dalam hal-hal teknis seperti pengetikkan beberapa hal berulang-ulang tanpa diperlukan serta penataan kalimat yang satu dan selanjutnya yang kurang atau bahkan tidak sinkron.
Padahal hal tersebut tidak seharusnya terjadi bila pengeditan dilakukan dengan saksama sehingga pembaca tidak perlu merasa dirugikan karena sulit mengerti akan apa yang dimaksudkan oleh penulis tersebut. Dalam hal ini, pepatah yang mengatakan bahwa jangan menilai sebuah buku dari sampulnya ternyata tidak jauh dari kenyataan karena sampul dan judulnya yang menarik ternyata masih memiliki banyak kekurangan.
Kelemahan lainnya yaitu sumber-sumber yang digunakan untuk membuat buku ini hanya terdiri dari sumber-sumber tertulis tanpa dukungan sumber lisan sehingga ketika membaca buku tersebut terasa ada yang kurang.
Namun, tentu saja, kelemahan tersebut tertutupi karena buku ini mampu menyajikan informasi penting secara ringkas. Yang lebih penting lagi, buku ini tidak mengarahkan pembacanya ke arah yang rancu atau memutarbalikkan fakta yang ada dan membuka pikiran pembaca akan masalah G 30 S tersebut ke dalam wilayah yang lebih luas
Kehidupan Masyarakat dalam Bidang Sosial dan Budaya pada Masa Penjajahan
Hidup terlihat sangatlah tidak adil bagi kaum rakyat biasa tersebut. Merekalah yang menanam dan memanen hasil-hasil ekspor tersebut namun bukannya menikmati keuntungan dari apa yang mereka lakukan, mereka malah mendapatkan penderitaan dan keuntungan yang didapat diambil oleh kaum penjajah. Meskipun tidak adil dan mereka hidup dengan sangat menderita, mereka mau tidak mau harus tetap mengikuti hal-hal yang sudah berlaku dan hanya bisa pasrah agar tetap dapat melangsungkan hidup mereka. Yang terasa berlebihan yaitu anak-anak kecil diharuskan untuk bekerja, padahal mereka seharusnya memiliki hak untuk menikmati masa-masa indah sebagai anak-anak, bukanlah merupakan kewajiban mereka untuk bekerja, kewajiban untuk bekerja sudah selayaknyalah berada pada pundak orang tua mereka.
Di zaman tersebut, gelar tertinggi (terutama untuk wanita) yaitu gelar ‘Raden Ayu’. Gelar tersebut bisa didapat dengan menjadi istri utama dari seorang bupati. Seorang bupati bisa menikahi sebanyak mungkin wanita yang ia inginkan, namun hanya seorang dari merekalah yang bisa diangkat menjadi istri utama. Istri utama akan tinggal di rumah utama dan istri lain tinggal di rumah lain meskipun masih berada dalam satu kompleks.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kaum wanita pada zaman tersebut dianggap tidaklah lebih tinggi daripada kaum pria, terjadi diskriminasi terhadap perempuan dan kaum wanita pun tidak mampu melakukan hal apapun selain pasrah karena hal tersebut sudah mendarah daging dalam kehidupan mereka. Kaum wanita dianggap sebagai barang yang bisa dipilih, dinikahi, dan diperlakukan secara sewenang-wenang oleh seorang pria. Poligami tersebut menjadi contoh atas poligami yang terjadi sekarang, serta memperjelas ketidak adilan terhadap kaum wanita yang terjadi sejak dulu hingga sekarang, yang jelaslah merendahkan martabat kaum wanita. Terlebih lagi, ketika kaum pria membandingkan derajat wanita yang satu dengan wanita yang lainnya, hal tersebut dapat dipastikan sangat menyinggung martabat seorang wanita.
Anak-anak dari tiap istri akan dibawa ke rumah utama. Dan anak-anak tersebut tidak akan memanggil ibu kandungnya dengan sebutan ‘ibu’ namun sebutan lain (‘yuk’) karena dianggap bahwa ibu lain selain istri utama memiliki pangkat lebih rendah daripada anak itu sendiri.
Terdapat stratifikasi, bahkan dalam kaum wanita itu sendiri. Mereka yang berpangkat lebih tinggi bisa menikmati hidup lebih layak daripada mereka yang berpangkat lebih rendah. Yang menyakitkan adalah bila mereka yang berpangkat lebih rendah dipisahkan dari anak mereka dan bahkan tidak diijinkan untuk dipanggil dengan sebutan ‘ibu’ oleh anak yang mereka lahirkan sendiri dan memanggil dengan sebutan ‘anak’ kepada anak kandung mereka sendiri. Apalagi ketika mengingat bahwa anak mereka tersebut bahkan dianggap memiliki pangkat yang lebih tinggi dari pada ibu mereka sendiri. Seorang ibu tidaklah dianggap seorang ibu lagi ketika sang ibu bukanlah ‘Raden Ayu’.
Anak yang sudah dapat berjalan akan menjalani upacara tedak siten. Upacara tersebut dilakukan untuk memperingati seorang anak yang mulai mampu berjalan di tanah Jawa untuk pertama kalinya.
Upacara tedak siten tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jawa masih mementingkan tradisi yang diwariskan turun temurun dari generasi yang satu ke generasi yang lainnya. Mereka menjaga tradisi yang ada dengan baik agar tradisi tersebut tidaklah hilang dimakan waktu. Selain itu, memperlihatkan bagaimana mereka ingin mengingatkan kepada masyarakat setempat bahwa anak mereka ‘ada’ dan sudah mampu berjalan, yang menandakan bahwa hal itu adalah langkah pertama mereka menuju sesuatu yang lebih berarti lagi nantinya.
Sekolah menggunakan sistem sekolah orang Belanda (Eropa) yang sudah menggunakan meja. Seorang bupati akan memanggil guru ke rumah agar anaknya bisa belajar dan mendapatkan pendidikan yang layak. Ketika sedang belajar, seorang murid menggunakan sabak (terbuat dari batu) sebagai tempat menulis. Bila seseorang ingin menempuh sekolah lebih lanjut lagi (terutama ke Belanda), seseorang tersebut haruslah menguasai beberapa bahasa selain bahasa Belanda (bahasa yang dianggap sebagai bahasa pengetahuan di Indonesia saat itu), misalnya bahasa Perancis.
Mempelajari banyak bahasa merupakan hal yang baik karena itu berarti bahwa pendidikan telah diberikan secara matang dan pada kemudian hari akan berguna bagi mereka, sekalipun hanya didapatkan oleh kalangan atas. Penguasaan banyak bahasa oleh seseorang memungkinkan mereka untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih luas (baik dalam bidang pengetahuan maupun kebudayaan) sehingga bisa memperoleh cara pandang yang lebih luas serta terbuka dan diharapkan bahwa mereka akan membawa pengetahuan tersebut untuk kebaikan bangsanya sendiri. Dengan diadaptasinya pendidikan dengan sistem bangsa Belanda, pendidikan bukan lagi hanya tertuju pada pembelajaran agama seperti yang terjadi pada masa sebelumnya (misalnya pesantren).
Buku-buku yang ada merupakan buatan orang-orang Belanda, sangatlah terbatas dan tidak boleh dibaca sembarangan.
Itu merupakan hal yang tidak adil karena buku yang ada hanya dibuat oleh orang Belanda. Namun, hal itu mendorong kaum pribumi yang bisa mendapatkan pendidikan secara layak untuk menguasai bahasa Belanda dan berjuang lebih keras untuk mendapatkan pendidikan yang lebih dalam dan memanfaatkan kesempatan yang mereka miliki dengan lebih baik lagi.
Bagi masyarakat setempat, kaum pria yang menikah lagi merupakan hal yang biasa. Kaum pria golongan atas, diajarkan cara mengeluarkan pendapat mereka di depan orang lain atau publik dan memiliki hak untuk memilih suatu hal.
Merupakan hal yang tidak adil terhadap kaum lawan jenisnya. Anggapan kaum pria lebih tinggi daripada kaum wanita sudah tertanam sejak dulu, sehingga mendorong masyarakat untuk berpendapat, bahkan hingga saat ini, bahwa pria lebih unggul daripada wanita dan mendorong kaum pria untuk memandang rendah terhadap kaum wanita yang ada.
Hal tersebut bertolak belakang dengan kehidupan kaum wanita. Kaum wanita tidaklah mempunyai pilihan dan hanya akan mendapatkan apa yang diperbolehkan untuk dirinya. Ketika seorang wanita sudah mengalami menstruasi, berarti mereka telah diperbolehkan untuk menikah dan ketika seorang wanita sudah menikah, hal tersebut dianggap mengurangi beban orang tuanya. Kaum wanita tidak memiliki banyak kesempatan seperti layaknya kaum pria, bisa dikatakan bahwa kaum wanita hanya bisa menangisi suatu hal.
Bila seorang anak perempuan dinikahkan, mereka memang akan mengurangi beban keluarga, namun, hal tersebut tidaklah adil bagi anak perempuan yang dinikahkan tersebut. Pada dasarnya, setiap manusia memiliki keinginan untuk menentukan (memilih) suatu hal berdasarkan apa yang diinginkan oleh diri sendiri dan bila hal tersebut direbut (ditentukan) oleh orang lain, pastilah terasa berat untuk menjalaninya, sekalipun hal itu sudah merupakan tradisi dari generasi yang satu ke generasi yang lainnya. Kesempatan yang tidak diberikan kepada kaum wanita mendorong kaum wanita untuk hanya bersikap pasrah terhadap apapun yang terjadi pada dirinya, padahal pasrah dan hanya menangis bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah yang ada. Tradisi tersebut membuat kaum wanita bersikap pasif, yang bahkan masih bisa terlihat hingga masa ini.
Terdapat tradisi pingitan. Tradisi tersebut mengharuskan seorang anak perempuan yang sudah siap dinikahkan (sudah menstruasi) tinggal di dalam suatu ruangan dan hanya diperbolehkan untuk menemui kerabat dekatnya. Kemudian, dia akan tinggal disana hingga orang tuanya mendatangkan calon suami untuknya. Anak perempuan tersebut pada akhirnya akan menikahi orang yang dibawa oleh orang tuanya tersebut.
Tradisi ini merupakan tradisi yang bisa dikatakan konyol karena bertujuan agar tidak mengenal pria lain dan tidak adil (apalagi bila dipadankan dengan pria yang berumur jauh diatas anak perempuan yang dipingit). Perempuan tidak diberikan kesempatan untuk memilih, bahkan memilih untuk dirinya sendiri. Wanita dianggap tidak mampu dan diperlakukan sesuai dengan kehendak yang berada diatasnya (orang tuanya), padahal mereka bahkan belum memberikan kesempatan bagi anak perempuan tersebut untuk melakukan hal yang diinginkannya.
Rakyat yang banyak tertekan dan terbelakang tersebut serta situasi pada saat itu meragukan bahwa bisa bebas dari tekanan-tekanan yang ada. Sedangkan orang Belanda, mengumbar banyak janji namun sulit melihat gambaran kenyataannya.
Hal itu memperlihatkan kepada bangsa Indonesia bahwa bangsa Belanda (Eropa) sulitlah dipercaya karena hanya mengumbar janji. Namun, terlihat juga betapa bangsa Indonesia sangatlah mudah diperalat yaitu rakyat masih saja banyak yang mempercayai janji-janji yang dibuat, yang dimungkinkan karena keadaan yang tidak juga membaik dan adanya keinginan bahwa janji yang diumbar akan menghasilkan sesuatu yang nyata. Dari semua keadaan tersebut, rakyat ditanami suatu pikiran bahwa mereka terpenjara dalam lingkaran setan tak berujung dan mereka tidak dapat bebas lagi dari dalamnya. Keraguan rakyat tersebutlah yang mendorong sulitnya mereka terbebas dari keadaan yang ada.
Calvin (5), Shelyna Vialli (30)
XI IPS I -- 2007/2008
SMA Tarakanita 2 Pluit
Tugas Sejarah
Metro TV
Sabtu, 29 September 2007
12.30 WIB
-----------------------------------------------------------------------------------------
Kampung Pegayaman, yang terletak di Sukasada, Buleleng, Bali merupakan potret unik dari sebuah kampung muslim. Kampung ini meski berada di tengah-tengah warga Bali yang mayoritas beragama Hindu, tetapi mampu membangun kehidupan yang harmonis dengan lingkungan sekitarnya. Pada bulan Puasa, biasanya warga muslim Pegayaman mengundang tetangga-tetangga mereka yang beragama Hindu untuk ikut berbuka puasa. Yang unik lagi, nama-nama warga muslim Pegayaman umumnya masih menggunakan nama yang secara antropologis menunjukkan warga Bali, seperti Nyoman, Kadek, Ketut, dan lain-lain. Bahkan, untuk ritual keagamaan terdapat percampuran antara adat Bali dan agama Islam. Harmoni di Pegayaman ini membuktikan bahwa agama mampu mendukung terbinanya kerukunan, di tengah besarnya aneka perbedaan di Bali.
Potret kampung muslim mudah ditemui di Pegayaman, yang terletak di kecamatan Sukasada, kabupaten Buleleng, provinsi Bali. Wilayah dengan 5000 jiwa didalamnya dan 90% beragama Islam hidup rukun dengan kampung-kampung sekitarnya yang mayoritas berpenduduk agama Hindu. Sejarah berdirinya Pegayaman juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah kota Singaraja, pusat pemerintahan kerajaan Buleleng yang beragama Hindu lebih dari 300 tahun yang lalu.
Para pemukim awal Pegayaman adalah orang-orang Jawa Muslim yang dikirim oleh Keraton Buleleng menyusul kemenangan Raja Kerajaan Buleleng Panji Sakti dalam perang melawan Kerajaan Pelambangan di Banyuwangi pada abad ke 17. Kemenangan inilah yang menurut Wayan Imam Muhajir, tokoh masyarakat Pegayaman mengawali kisah datangnya Islam di Buleleng hingga nantinya orang-orang muslim itu dipindahkan ke daerah hutan Pegayaman. Waktu itu didengar bahwa Raja Mataram diajak untuk musyawarah bersama bagaimana sehingga dia tidak akan mengadakan peperangan lagi, yang waktu itu Raja Panji Sakti itu diberikan hadiah waktu itu berupa baja yang diantarkan oleh beberapa prajurit; sampai di Buleleng, beberapa prajurit itu diberitahu oleh Panji Sakti bahwa sekarang mereka sekalian ini bukan lagi siapa-siapa tapi adalah sebagai keluarga mereka.
Sebagai desa yang berbukit yang berbentuk memanjang, Pegayaman menyerupai benteng alam yang kokoh, melindungi wilayah Buleleng yang subur sepanjang pantai utara pulau Bali. Dalam sejarahnya, desa Pegayaman memang didirikan sebagai benteng Buleleng menghadapi serangan yang berasal dari kerajaan Hindu di wilayah selatan pulau Bali. Mungkin pertimbangan benteng ditaruh disini secara strategi kemiliteran yaitu untuk menjadi penangkal atau pelindung Buleleng dari daerah selatan.
Sisi menarik lainnya yaitu latar belakang warganya, warga Pegayaman generasi pertama adalah orang-orang muslim dari Jawa kemudian menyusul orang Bugis dan orang dari pulau Bali sendiri yang beragama hindu. Dari nenek moyang mereka, baik dari yang Jawa dan dari Bugis adalah muslim, kemudian pada tahun 1963 dimana pada saat itu Gunung Agung meletus di Karang Asem dan dari situ banyak pengungsi dari sana pergi kemana-mana termasuk mengungsi ke Pegayaman.
Potret keberagaman di Pegayaman terlihat dari desa Amartasari, sebuah wilayah di Pegayaman yang kini berstatus menjadi sebuah desa adat. Warga bali beragama Hindu di dusun Amartasari ini menjalankan hidup mereka dengan baik yang tampak dalam pertemuan rutin. Pertemuan rutin tersebut menurut Gede Lingga, tokoh agama Hindu, diadakan untuk membicarakan masalah-masalah sosial kemasyarakatan selain terkait dengan persiapan mengelar upacara-upacara keagamaan. Tentang kerukunan untuk dua agama yang ada di desa pegayaman tersebut, mereka sangat rukun dan sangat akrab, misalnya kalau seperti Gede Lingga mengadakan upacara keagamaan, dia mengundang aparat desa, dan mereka datang, kemudian kalau hari raya lebaran, Gede Lingga diundang kemudian dia datang, kemudian di Pegayaman ada yang disebut buda dan adrah, yang kalau diperlukan dapat dipinjam demi kepentingan bersama di Pegayaman.
Keberagaman di Pegaymaan yang bertahan selama lebih dari 300 tahun sering kali mengungkap pertanyaan menarik, mengapa identitas Islam bisa bercampur dengan identitas Bali yang bercampur dengan agama Hindu secara nyaris sempurna. Ketut Agus Asygor, ketua lembaga kemasjidan di Pegayaman menjelaskan bahwa orang Pegayaman meski memeluk agama Islam tetap menganggap dirinya sebagai orang Bali. Orang hindu menjadi saudara orang Islam dan orang Hindu menganggap orang Islam sebagai saudara mereka sehingga tidak menimbulkan konflik, saling singgung atau permasalahan yang menimbulkan perpecahan. Panggilan saudara yang ditujukan bagi kelompok yang satu dengan kelompok yang lain berarti bahwa hubungan mereka sangat dekat. Begitulah, saudara sesama muslim dan saudara sesama orang Bali merupakan produk akulturasi budaya yang terbentuk selama ratusan tahun. Akulturasi budaya itu berhasil membentuk identitas budaya warga Pegayaman yang muslim untuk hidup bersama secara damai bersama saudara mereka sesama orang Bali yang beragama Hindu.
Agama Islam di Pegayaman diajarkan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa secara berkesinambungan dalam waktu ratusan tahun sehingga menghasilkan tradisi Islam yang kuat dalam masyarakat yang kuat dalam masyarakat Pegayaman. Di kampung muslim ini, masjid selalu tampak ramai digunakan umat yang beribadah. Kegiatan mengaji menjadi kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari anak-anak. Guru mengaji memiliki status tinggi di desa Pegayaman karena bertanggung jawab dalam mendidik moral anak-anak. “Kadang-kadang dari kecil, kita punya anak, kita serahkan ke guru ngaji, saya antarkan. ‘Saya kesini mengantarkan anak saya memohonkan barokah ilmu untuk menyerahkan anak saya, mohon diajarkan mengaji’. Saya serahkan, dalam istilah orang Bali disebut serah matah. ‘Bagaimana terserah pak guru, apapun yang bapak inginkan anggaplah itu anak bapak sendiri’.”
Bentuk akulturasi terlihat jelas dalam kegiatan belajar membaca Al-Quran pada anak-anak di desa Pegayaman ini. Para guru mengajarkan anak-anak mengaji sebagai proses untuk dapat membaca Al-Quran dengan bantuan bahasa Bali. Cara mengaji dengan bantuan bahasa Bali ini sangat penting karena khas Pegayaman, jadi untuk mempermudah dan agar rasanya tidak terlalu asing maka di dalam pembelajaran Al-Quran itu, untuk mengerti bagaimana cara membaca dan mengeja huruf-hurufnya serta nadanya, digunakan bahasa Bali.
Sisi menarik lainnya dari Pegayaman adalah berkembanganya kesenian buda. Kesenian yang diadaptasi dari kesenian Islam timur tengah ini berkembang subur di Pegayaman. Para peseni buda ini melantunkan syair-syair yang berisi sejarah hidup Nabi Muhammad SAW dan puji-pujian pada nabi yang menjadi panutan tiap muslim. Kesenian buda Pegayaman juga merekam akulturasi budaya dalam bentuk yang sangat unik. Akulturasi dalam kesenian buda mencerminkan bertemunya pengaruh tiga budaya dalam budaya muslim Pegayaman yaitu budaya Bali, Jawa, dan Bugis. Dalam cara berpakaian juga terlihat, kalau atasannya itu dasarnya adalah berasal dari Mataram dan Yogya, maka menunjukkan dimana warga Pegayaman juga berasal dari Yogya dan Mataram, kalau dari bajunya atasan begitu pula bawahannya adalah dari Makassar, maka itu adalah pakaian Bali.
Bagian terpenting dari potret Islam di Pegayaman dengan umat Hindu di Buleleng terjadi ketika hari Maulud Nabi Muhammad SAW dirayakan. Selain dirayakan secara meriah, perayan Nabi Muhammad SAW di Pegayaman sekaligus menandai status unik umat Islam di Buleleng. Dari tahun ke tahun, keluarga Puri Agung Buleleng selalu menghadiri perayaan Maulud Nabi di Pegayaman, kehadiran para bangsawan dan pemuka Hindu yang berasal dari Puri Agung Buleleng ini menandai hubungan istimewa antara warga muslim Pegayaman dangan Puri Agung Buleleng. Saudara sesama mulim dan saudara sesama Bali sesungguhnya adalah perwujudan sejarah masuknya agama Islam di Bali 300 tahun yang lalu, yang berlangsung dalam suasana rukun dan damai. Warisan berupa hubungan yang rukun dan damai antara warga muslim dan Hindu itu masih utuh bertahan hingga hari ini.
Kesenian adrah menjadi sangat istimewa karena digelar pada hari pertama bulan Ramadhan tahun ini. Uniknya anak-anak panti asuhan pegayaman ini dengan terampil dan semangat melantunkan lagu happy birthday dengan iringan musik adrah. Anak-anak panti asuhan ini juga mahir melantunkan lagu-lagu berbahasa Arab. Adrah Pegayaman sering kali menjadi bagian penting dari ritual keagamaan dan kesenian ini digemari mulai dari anak-anak hingga dewasa. Pada setiap kegiatan-kegitaan keagaman itu tidak dapat lepas dari penampilan dari kesenian itu sehingga merupakan kesempurnaan, pelengkap dari kegiatan-kegiatan ritual yang ada di desa tersebut tanpa ada kesenian ini akan tidak menjadi sempurna.
Terawih pertama bulan Ramadhan di Pegayaman seperti tahun-tahun sebelumnya berlangsung hikmat, sisi unik dari kegiatan Terawih ini terkait dengan jadwal Terawih. Bagi kaum perempuan, Terawih berlangsung lebih awal yaitu selepas shalat Imsak. Terawih kaum pria di Pegayaman memiliki ciri unik dan merupakan lanjutan dari tradisi yang berlangsung ratusan tahun, Terawih yang digelar di masjid ini digelar pada pukul sepuluh malam. Menurut cerita para tetua di Pegayaman, Terawih yang dimulai menjelang tengah malam ini banyak terkait dalam kehendak menjadikan Terawih salah satu sarana menjaga persatuan. Kenyataannya, hingga hari ini di Pegayaman, hanya ada satu masjid yang salah satu fungsi utamanya adalah menjaga keutuhan warga muslim Pegayaman.
Setelah Terawih berakhir, para tetua Pegayaman akan menceritakan garis pertama Ramadhan yang akan berlangsung hingga tengah malam. Memahami tentang bagaimana pengetahunan dasar mengenai misalnya membaca Al-Quran itu dipikirkan dimana kekurangan kita, sehingga tidak heran kalau sewaktu-waktu ada anak murid datang ke tempat guru mungkin menanyakan mengenai hal-hal yang diragukannya tentang ibadah.
Menjelang subuh, warga Pegayaman memulai sahur. Bulan Ramadhan ini bagi warga Pegayaman khususnya anak-anak muda, menjadi waktu dimana mereka mendirikan sebuah warung sederhana yang akan menjadi tempat berkumpul bersama saat malam hari. Bagi anak muda, selain Masjid dan Musholla, dari warung inilah suasana Ramadhan pada malam hari dihidupkan. Selepas Maghrib tiba, buka puasa dimulai. Kegiatan pada bulan Ramadhan disana berlangsung sederhana namun terasa hikmat.
Islam telah membimbing dan menengahi berputarnya roda kehidupan di Pegayaman selama ratusan tahun. Islam juga meneguhkan keyakinan warga Pegayaman untuk hidup berdampingan secara damai dengan saudara-saudara mereka yang beragama Hindu. Islam yang menurut artinya sebagai agama keselamatan, di Pegayaman sebenarnya tidak ada dampak-dampak atau pemikiran-pemikiran yang mengarah pada pembedaan terhadap agama lain, selama ini yang penting adalah membawa kemasyarakatan bagi bersama. Islam hadir membimbing dan membawa semangat kebersamaan di Pegayaman. Cahaya Ilahi telah menerangi Pegayaman selama ratusan tahun, menerangi hati dan menebarkan semangat persaudaraan dan kerukunan.
Analisis
Islam di Pegayaman dapat diterima dengan baik dan mudah adalah karena Islam datang dan berkembang secara damai di Pegayaman. Hal tersebut juga ditunjukkan dengan betapa rukunnya masyarakat Islam disana dengan masyarakat Hindu di sekitarnya, mereka bahkan menganggap satu sama lainnya sebagai saudara yang menunjukkan betapa mereka tidak membedakan satu sama lainnya hanya berdasarkan agama. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan keadaan di beberapa daerah lainnya dimana umat Islam tidak dapat hidup rukun dengan umat agama lainnya, hal ini membuat kita menjadi sulit memahami bagaimana Islam yang sebenarnya hingga ada pertanyaan mendasar di pikiran kita, yaitu apakah Islam mengajarkan kebaikan seperti yang sudah seharusnya sebuah agama ajarkan atau mengajarkan kekerasan yang ditunjukkan dengan banyaknya pe-jihad yang nyatanya bisa dikategorikan sebagai teroris?
Masyarakat Islam di Pegayaman menunjukkan bahwa mereka sama sekali berbeda dengan pandangan beberapa orang mengenai Islam bahwa betapa umat Islam sangat muluk dan kolot dalam menganut agamanya. Umat Muslim di Pegayaman tidak mengagungkan agamanya sendiri, mereka tidak menganggap agamanya sebagai agama yang paling benar dari semua agama yang ada, mereka bahkan dengan rendah hati tidak menganggap diri mereka hanya sebagai kaum Muslim namun juga sebagai kaum Bali dan mau mengundang kaum Hindu dalam perayaan keagamaan mereka sehingga disana tidak timbul perpecahan, konflik, permusuhan antar kelompok agama seperti yang terjadi di daerah-daerah lainnya.
Dapat dimengerti mengapa guru mengaji di Pegayaman sangat dihormati, mereka merupakan salah satu sarana bagi orang-orang untuk dapat lebih mengenal dan memahami Islam di daerah tersebut, bahkan orang-orang hingga mempercayakan anak-anaknya kepada guru mengaji hingga pada tahap ‘menyerahkan’ anak mereka pada guru mengaji agar menganggap anak mereka sebagai anaknya sendiri. Hal tersebut menunjukkan betapa masyarakat Islam di Pegayaman menganggap bahwa dapat membaca Al-Quran merupakan hal sangat penting, memperlihatkan bahwa mereka sangat memperhatikan kelangsungan agama mereka pada masa berikutnya dan terus mempertahankan tradisi membaca Al-Quran dalam bahasa Arab.
Selain belajar dari guru mengaji, umat Islam terutama anak-anak juga dapat belajar lebih dalam mengenai Islam melalui kesenian yang ada. Kesenian disana mengajarkan agama Islam dengan cara yang menyenangkan sehingga lebih mudah dimengerti dan juga dengan kesenian tersebut, umat satu sama lain dari satu agama maupun agama yang berbeda dapat menjalin hubungan yang lebih dekat dan kuat.
Kesederhanaan masyarakat Islam, ditunjukkan salah satunya dengan hanya terdapatnya satu masjid sederhana disana, hal tersebut sangat sesuai dengan ajaran Islam yang memperbolehkan umatnya beribadah dimana saja dan kapan saja. Selain itu, hal tersebut juga menyimbolkan betapa walaupun mereka hanya memiliki satu masjid, mereka benar-benar mengunakannya untuk beribadah dan sebagai simbol dari persatuan mereka. Kesederhanaan di Pegayaman ini seperti mencemooh daerah-daerah lain yang memiliki masjid-masjid besar dan megah namun sama sekali tidak digunakan seperti yang seharusnya, bahkan ada yang hanya digunakan untuk menunjukkan kemegahan Islam, namun tidak menunjukkan bahwa Islam juga mengajarkan kesederhanaan yang tulus, bukan megah tapi sia-sia.
Dengan kepribadian masyarakat Islam di Pegayaman yang benar-benar terbuka seperti yang seharusnya, Islam diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat Hindu. Diantara keduanya terlihat seperti tidak ada perbedaan sama sekali, mereka benar-benar menyadari bahwa mereka berbeda satu sama lain dan saling melengkapi kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Kesimpulan
Dengan banyaknya anggapan bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan kekerasan, dengan melihat kehidupan di Pegayaman, hal tersebut dapat dikatakan bahwa tidak sepenuhnya benar dan ditunjukkan dengan betapa Islam dapat hidup rukun berdampingan dengan umat Hindu, karena sesuatu yang datang dengan damai seharusnya berjalan dan berkembang dengan damai pula.
Walaupun agama Islam berbeda dengan agama Hindu begitu juga adat masing-masing agama berbeda, bila mereka dapat menerima perbedaan yang ada dengan terbuka dan mau menerima keberadaan satu sama lainnya serta menjadikan perbedaan yang ada sebagai pelengkap satu sama lain seperti yang terjadi di Pegayaman, maka umat beragama berbeda satu sama lainnya dapat hidup berdampingan dengan rukun, akrab, dan damai, tanpa perlu menimbulkan konflik ataupun perpecahan yang nantinya malah merugikan masing-masing pihak.
Analisis
Semakin lama Islam tersebar dan berkembang, semakin maju pula pembangunan masjid di Indonesia. Dari masa ke masa, arsitektur masjid terus berkembang. Dana yang digunakan untuk pembangunannya makin basar, unsur tipologi bangunannya makin menonjol, material yang digunakan kualitasnya makin baik, sehingga tak urung masjid yang ada makin megah bangunannya. Jika dihubungkan dengan teori faktor intern yang menyatakan bahwa Islam mudah diterima masyarakat karena penyebarannya terbuka dan juga damai, hal ini terbukti. Karena dengan makin terbukanya ajaran Islam, berarti makin banyak orang yang beragama Islam. Karena mereka semua damai, mereka pasti berinteraksi dengan baik. Makin banyak orang Islam, makin damai mereka, mereka membutuhkan sarana beribadah yang layak, juga tempat silaturahmi antar masing-masing umat. Mereka membutuhkan masjid. Kenapa pemerintah mendirikan masjid? Mungkin saja karena mereka tahu sudah banyak orang muslim, dan akan makin banyak orang akan menjadi muslim jika masjid didirikan karena berarti Islam menyediakan sarana berkomunikasi dengan Allah, juga bisa menyejahterakan masing-masing umat manusia.
Tapi, di balik itu ada hal yang patut dipertimbangkan, mengapa bangunan Islam yang dibangun makin megah? Masjid Istiqlal menghabiskan dana Rp 7 miliar dan US$12.000.000 untuk pembangunannya. Bukannya salah satu faktor ekstern mengatakan bahwa umat Islam bias menjalankan kegiatan ibadahnya dengan mudah, sederhana, dan dimana saja? Mengapa bangunan Islam makin megah? Bukankah yang terpenting adalah umat bisa menjalankan ibadah dengan sederhana namun tulus?
Dengan bangunan masjid yang sangat megah seperti itu, tidakkah akan menimbulkan suatu tanda tanya besar dalam pikiran bahwa sesungguhnya Islam hanya mau menunjukkan / mengagungkan kemegahannya sajakah ataukah Islam ingin menunjukkan bahwa dibalik bangunannya yang megah, ajarannya sendiri itu pun memang adalah sesuatu yang megah ataukah umat Islam sendiri ingin menunjukkan bahwa Tuhannyalah yang paling agung kepada umat agama lain yang ditunjukkannya melalui kemegahan bangunan beribadahnya, menunjukan dominansinya?
Selain itu, sudah seharusnya bangunan beribadah menjadi sesuatu yang sakral dan khusus, namun bagaimana sebuah bangunan beribadah menjadi khusus apalagi sakral, sekalipun bangunan beribadah tersebut merupakan bangunan beribadah untuk agama yang dianut mayoritas penduduk, ketika bangunan tersebut sekaligus digunakan untuk memamerkan betapa hebatnya suatu negara dalam membuatnya, menjadi simbol kesuksesan suatu negara dalam merebut kemerdekaan, dan bukankah bangunan beribadah dibuat untuk umat agar dapat beribadah dan dapat lebih dekat kepada Tuhannya, bukan untuk memamerkan betapa hebat Tuhannya melalui bangunan megah tersebut?
Kesimpulan
Dengan semakin megahnya bangunan masjid, seharusnya umat muslim semakin taqwa akan kebesaran Allah SWT, dan bukannya malah membelokkan niat seseorang yang datang ke masjid semata-mata hanya untuk Allah.
Semakin megahnya suatu bangunan masjid, belum tentu hal yang seharusnya menjadi tujuan utama dibangunnya sebuah masjid ada dan dijalankan, bukan berarti dengan megahnya suatu bangunan, sesuatu ada ‘didalam’ juga megah seperti yang tampak dari luar.
Meskipun suatu bangunan ibadah terlihat megah, seharusnya tanpa kemegahan itu sendiri, bangunan tersebut sudah terlihat megah dengan sendirinya tanpa ornamen-ornamen mahal yang menghiasinya hingga megah, karena bukan kemegahan mahal itu yang seharusnya dipandang dan dipamerkan namun kemegahan dari bagaimana umat benar-benar mampu menggunakan bangunan ibadah tersebut sesuai dengan seharusnya, bukan untuk hal-hal duniawi apalagi dalam politik.
Analisis ‘Menelusuri Akar Ketimpangan dan Kesempatan Baru: Catatan Tentang Sejarah Perkebunan Indonesia’
Sementara itu, lingkungan perkebunan pada masa itu terbagi menjadi dua lingkungan dimana lingkungan tersebut terdapat paling banyak di Jawa. Dalam lingkungan pertama ini, keterlibatan langsung penduduk setempat sebagai tenaga kerja sangat intensif. Bukan hanya laki-laki dewasa yang dilibatkan, tetapi juga wanita dan anak-anak. Pada saat ini diperkirakan terjadi penekanan yang cukup besar pada ekonomi desa sehingga wanita dan anak-anakpun akhirnya dijadikan tenaga kerja. Sepertinya, pada masa kolonial, para penguasa harus gencet sana-sini demi memuaskan ekonomi negara mereka. Pada saat yang sama, penduduk juga mampu memanfaatkan teknologi baru dan kesempatan kerja sebaik-baiknya. Hal ini menunjukkan pada saat itu, masyarakat menunjukkan pola pikir yang cukup kritis. Bukan ikut-ikut saja. Lingkungan kedua banyak terdapat di Sumatera dan Kalimantan. Terjadi pemisahan antara perkebunan sebagai pusat produksi komoditi untuk pemenuhan kebutuhan pasar dunia dengan lahan penduduk untuk menanamkan kebutuhan pangannya. Sudah jelas kebutuhan pasar dunia jauh lebih penting dari kebutuhan penduduk setempat. Jika mau dikata, keadaan penduduk setempat sangat memprihatinkan. Tidak seperti kita, mereka tidak bisa memperjuangkan hak mereka. Beberapa dari mereka bahkan hidup hanya untuk menjalankan kewajibannya. Berbeda dengan elite di lingkungan pertama, elite di lingkungan kedua tidak bisa mengerahkan tenaga kerja di bawah kekuasaannya sehingga membuat elite di lingkungan kedua terlihat tidak penting. Selain itu, terjadi juga kebutuhan akan tenaga kerja luar ―juga tenaga kerja kontrak. Pada lingkungan pertama, kehadiran pendatang sangat terbatas namun tinggalnya menetap. Berbeda dengan lingkungan kedua, banyak sekali pendatang yang masuk namun tinggalnya tidak menetap. Hal tersebut juga dipicu oleh digunakannya tenaga kerja dari luar. Dua lingkungan tersebut telah membentuk sebuah kultur komuntitas perkebunan.
Di sisi lain, keadaan ekonomi rakyat kecil pada masa itu sangatlah memprihatikan. Hal itu disebabkan oleh kecilnya pengaruh kelompok masyarakat tersebut dan besarnya pengaruh kelompok swasta. Yang disayangkan, ketidak seimbangan tersebut didukung pula oleh kelompok masyarakat elite yang mengambil keuntungan juga dari kecilnya pengaruh rakyat kecil. Hal itu, seperti dapat dilihat, sangat mencerminkan betapa bobroknya mental masyarakat pada jaman itu, yang tentu saja, besar atau kecil, mempengaruhi mental masyarakat generasi berikutnya, bahkan hingga saat ini.
Pemakaian tenaga kerja yang berasal dari masyarakat dalam negri yang terus bertambah dan pemakaian tenaga kerja yang berasal dari masyarakat luar negri yang secara bertahap terus berkurang, menunjukkan bahwa masyarakat dalam negri lebih mudah dimanfaatkan oleh pemilik modal saat itu. Hal tersebut menggambarkan bahwa masyarakat dalam negri belum mampu melawan kekuasaan yang berasal dari luar meskipun kekuasaan tersebut dipaksakan kepada mereka. Terlebih bila mengingat bahwa ada beberapa kelompok dalam masyarakat dalam negri yang malah mengambil keuntungan dari penderitaan yang dialami masyarakat sebangsanya.
Lingkaran setan yang terus membelenggu masyarakat dari generasi yang satu ke generasi yang lain digunakan sebagai momok bagi masyarakat untuk tidak melakukan perkembangan. Perkembangan dalam hal ini dimaksudkan sebagai kemajuan kehidupan masyarakat tersebut. Mereka tidak berkembang dan pasrah saja dalam menerima kenyataan meskipun jaman sudah berubah dan memungkinkan mereka melakukan perkembangan yang tidak mampu dilakukan pada jaman sebelumnya. Ketiadaan perkembangan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tersebut tidak berniat melakukan perubahaan dan mau menerima begitu saja suatu hal meskipun hal tersebut tidak sesuai dengan yang diinginkan. Mereka tidak berani melawan penindas mereka dan hal tersebut berarti mereka kembali terjerat dalam lingkaran setan. Bila dari generasi yang satu ke generasi yang lain tidak ada yang berani mengambil keputusan untuk melawan atau melakukan perubahan, maka lingkaran setan itu pun tidak akan terputus, sebab yang ada dalam lingkaran setan itu pun tidak ada yang melawan, terlebih lagi kelompok masyarakat yang diuntungkan dalam lingkaran setan tersebut dan mengingat tertanamnya mental pasrah dari generasi yang satu ke yang lain.
Pemanfaatan jalur birokrasi oleh kolonial dalam mengembangkan perkebunan sangatlah menguntungkan bagi mereka dan beberapa kelompok lainnya yang terhubung dalam jalur birokrasi tersebut. Kolonial memanfaatkan elite setempat dengan kekuasaan dan uang yang mereka miliki; elite setempat memanfaatkan penduduk setempat yang tidak mampu melakukan perlawanan yang berarti; kolonial mendapatkan keuntungan besar, elite mendapatkan keuntungan, rakyat kecil menderita.
Semua hal tersebut memperlihatkan bahwa mental masyarakat kecil hanyalah tertuju pada kepasrahan asal mereka masih dapat bertahan hidup; mental masyarakat elite setempat untuk mendapatkan keuntungan dari mental masyarakat kecil yang pasrah meskipun masyarakat kecil tersebut merupakan teman sebangsa mereka dan menjalankan keinginan dari kolonial karena mereka mendapatkan keuntungan darinya; dan kepandaian masyarakat kolonial dalam memanfaatkan mental masyarakat kecil dan elite setempat tersebut sehingga mereka mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
Secara keseluruhan, sejarah perkembangan perkebunan yang terjadi di Indonesia tidak terlalu membuahkan sesuatu yang sangat positif bagi perkebunan Indonesia masa kini. Masyarakat Indonesia tidak terlalu mengikuti globalisasi dan memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lalu. Mereka kurang bisa meresapi apa yang dikatakan belajar dari pengalaman (learning by experience). Bisa dikatakan, kondisi perkebunan sekarang sama saja dengan masa lalu. Rakyat kecil mau tak mau harus bekerja keras dengan upah minimum. Apa bedanya dengan dulu? Hanya sedikit lebih renggang, tapi rakyat sekarang juga harus berpikir keras untuk bisa menyambung hidup. Pengusaha zaman sekarang bisa dikatakan tidak jauh berbeda dengan penguasa kolonial zaman dulu.
Calvin (5), Shelyna Vialli (30)
XI IPS I – 2007 / 2008
Perjuangan Rakyat dalam Rangka Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
Pada masa lampau, rakyat Indonesia berjuang dengan gigih, para pahlawan bangsa bermunculan dan gugur di medan perang, baik yang berperang secara fisik maupun secara non-fisik, menguras pikiran dan tenaga mereka untuk membawa Indonesia hingga pada suatu keadaan dimana Indonesia dapat merdeka. Merdeka yang berarti bebas dari segala penjajahan, seperti yang ditulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Namun, benarkah Indonesia sudah merdeka meskipun para petinggi bangsa di masa lampau tersebut telah memproklamirkan kemerdekaan Indonesia? Pada kenyataannya, dapat kita lihat bahwa Indonesia tidak dapat dikatakan telah merdeka atau bebas dari penjajahan karena banyaknya masalah-masalah yang sudah berangsur begitu lama dan belum dapat dituntaskan juga oleh bangsa Indonesia.
Indonesia masih terbelenggu oleh tingginya tingkat kemiskinan. Dari sekitar 200 juta jiwa di Indonesia, 17,75% nya adalah penduduk yang tergolong hidup dalam kemiskinan pada tahun 2005-2006*. Penduduk yang berada dalam kemiskinan tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka dan hal tersebut menyebabkan mereka terbatas pada memikirkan kepentingan diri mereka yaitu mampu bertahan hidup pada hari itu juga. Hal tersebut tidak mendorong mereka untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia karena mereka bahkan belum mampu mempertahankan hidup mereka sendiri. Apalagi bila ditambah dengan kenyataan bahwa negara ini belum mampu memberikan ‘hal’ apapun bagi mereka.
Ironisnya, melihat hal tersebut pun tidak mampu menyadarkan para petinggi negara yang terpelajar untuk berhenti menggerogoti tubuh bangsa dengan korupsi. Setelah penjajahan Belanda telah berakhir selama bertahun-tahun, ternyata budaya yang ada pada masa penjajahan Belanda masih belum juga lepas dari tubuh bangsa Indonesia. Kebudayaan untuk melakukan korupsi tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, mulai dari tingkat sekolah ―yang seharusya menjadi pondasi kedua setelah keluarga dalam mendidik penerus bangsa― hingga ke tingkat pemerintahan ― yang pejabat-pejabat tinggi di dalamnya seharusnya menjadi teladan bagi anak-anak bangsa serta masyarakat luas di negeri yang dipimpinnya. Bagaimana perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan mampu terlaksana dengan baik bila kaum terpelajar dan seharusnya dihormati bersikap ‘rendah’ seperti itu karena lebih mementingkan kekayaan masing-masing daripada kesejahteraan rakyatnya yang merupakan salah satu bentuk mempertahankan kemerdekaan? Sayangnya, hal tersebut sudah merasuk, mendarah daging, dan mengakar di dalam bangsa Indonesia serta menjadi suatu budaya yang ‘harus’ dilakukan.
Lebih dari itu, rasa nasionalisme yang rendah dapat terlihat dalam diri pemuda-pemuda, pelajar-pelajar, penerus bangsa di masa depan. Ditunjukkan dengan sikap-sikap pemuda yang tidak benar-benar menyadari arti pendidikan itu sendiri padahal hal tersebut penting dan termasuk yang disebutkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, serta minimnya pengetahuan mereka tentang bangsa Indonesia sendiri ―seperti mengenai lagu-lagu kebangsaan, nama-nama pahlawan, tempat-tempat bersejarah dan sejarah bangsa ini sendiri.
Pendidikan, yang seharusnya menjadi awal perjuangan seorang penerus bangsa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, menjadi sesuatu yang sekedar formalitas belaka untuk mencari pekerjaan yang belum tentu di dapat dan hal tersebut mendorong para pelajar untuk melanjutkan pendidikan dan menetap di luar negeri. Kebanggaan bersekolah di luar negeri diperoleh, tapi tidak diperoleh bila bersekolah di dalam negeri, dan hal tersebut tentu saja realistis dengan keadaan dalam negeri yang ‘berantakan’ saat ini. Namun, bukankah hal tersebut merupakan satu-satunya pilihan ketika negara ini tidak dapat menawarkan sesuatu yang lebih baik? Tapi, kembali lagi pada pernyataan bahwa para pemudalah sang penerus-penerus bangsa di masa depan, tidakkah seharusnya pemuda-pemudalah yang berusaha mengubah keadaan ‘tragis’ tersebut?
Perjuangan masyarakat saat ini untuk mempertahankan kemerdekaan yang sebenarnya sudah ada di ‘tangan’ dapat dikatakan sangat memalukan bila mengingat perjuangan bangsa Indonesia pada masa lampau. Bukankah seharusnya sesuatu yang sudah ada di ‘tangan’ akan mampu dipertahankan bila berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankannya? Tapi, apakah bangsa ini sudah berusaha sekuat tenaga? Ataukah sama sekali tidak ada usaha untuk mempertahankannya?
Bila dibandingkan, tujuan dari perjuangan masyarakat saat ini adalah untuk mempertahankan sebuah kemerdekaan yang sudah diraih oleh bangsa ini di masa lampau; sedangkan tujuan dari perjuangan masyarakat Indonesia di masa lampau adalah untuk meraih suatu kemerdekaan, suatu kebebasan, suatu kebanggaan sebagai bangsa yang mampu melawan penjajah dan berdiri sendiri dengan tegak tanpa perlu merasa lebih rendah dari bangsa lain karena dijajah, suatu usaha agar terbebas dari segala penindasan dan penderitaan yang dialami karena penjajahan, suatu upaya agar bangsa dan generasi mendatangnya tidak perlu menjadi bangsa yang terjajah.
Pada masa lampau tersebut, bangsa Indonesia berupaya sebisa mungkin agar lepas dari tangan penjajah. Seperti di Bandung (Peristiwa Bandung Lautan Api), rakyat rela membakar harta bendanya serta kotanya agar Belanda tidak bisa menguasai apa yang seharusnya milik mereka; dan Surabaya (Insiden Bendera), rakyat merobek bagian biru dari bendera Belanda yang dinaikkan oleh orang Belanda dan menaikkannya kembali sebagai bendera Merah Putih. Dalam kedua peristiwa tersebut, dapat terlihat bahwa rasa nasionalisme mereka sangatlah tinggi dan tidak rela bila direndahkan oleh bangsa penjajah. Mereka tidak hanya tunduk begitu saja namun melawan sekuat mereka hingga pada akhirnya Indonesia mampu untuk memerdekakan diri, bahkan hingga masa setelah itu ketika ada bangsa yang berusaha menguasai Indonesia lagi.
Ketika hanya dilakukan perlawanan secara fisik yang menumpahkan begitu banyak darah dianggap kurang bermanfaat, pemimpin-pemimpin bangsa melakukan cara yang lain, yaitu dengan cara diplomasi. Sama halnya dengan saat tersebut, saat ini, bangsa Indonesia tidak perlu menumpahkan banyak darah karena di era kini, cara berpikir manusia lebih maju. Namun, masih terlihat bahwa cara diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia di dalam negeri sulit untuk dilakukan. Apakah masalah internal tersebut memang tidak dapat dirundingkan lagi atau salah satu/kedua pihak memang tidak memiliki keinginan berunding untuk menyelesaikannya secara damai, padahal mereka seharusnya adalah suatu kesatuan?
Indonesia yang pada masa lampau masih menggunakan alat-alat sederhana atau bersifat fisik seperti bambu runcing memiliki suatu visi yang jelas atau konkret sehingga seluruh bangsa Indonesia terarah untuk melawan penjajah dan memerdekakan diri. Sayangnya, di masa yang perkembangan teknologinya sangat pesat ini, bangsa Indonesia tidak lagi memiliki visi yang jelas.
Dapat dilihat bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sudah lama terjajah sehingga hanya sedikit dari penduduk yang berpendidikan dan mayoritas dari penduduk adalah golongan tidak terpelajar. Setelah berhasil mendapatkan kemerdekaan ―dan setelah berhasil menangkal sekutu yang berusaha merebut, bagi masyarakat yang mayoritas tidak berpendidikan pastilah tidak memiliki visi yang jelas ―apa lagi yang mau diperjuangkan kalau kemerdekaan sudah diraih dan orang-orang yang berusaha merebut kembali tidak ada, apa yang mau dilawan?
Hal tersebut menyebabkan perjuangan rakyat hanya sebatas apa yang dapat dilihat secara fisik dan apa yang dapat diperjuangkan secara fisik, bukan apa yang dapat diperjuangkan dalam hal-hal lainnya. Pemikiran tersebut tidak dapat dihindari karena masyarakat Indonesia mayoritasnya tidak berpendidikan. Bahkan, ketika seorang pemimpin bangsa berusaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui pendidikan yaitu wajib belajar 9 tahun, karena mayoritas masyarakat yang tidak terpelajar dan terpelajar namun mentalnya lemah, program tersebut sulit direalisasikan secara maksimal.
Lebih jauh lagi, di masa sekarang, terlihat bahwa teknologi sudah berkembang dengan sangat baik dan dampaknya terhadap masyarakat (dampak sosiologis) terhadap hal tersebut yaitu batas negara yang dulu dianggap sangat membebani seakan tidak ada lagi (mis. teknologi komunikasi yang memungkinkan manusia di bagian bumi lain berhubungan dengan manusia di bagian lainnya secara cepat dan terasa seperti tidak ada yang membatasi). Dampak tersebut menyebabkan masyarakat terpelajar berpikir tidak ada gunanya lagi berjuang mempertahankan kemerdekaan karena di masa modern ini, masyarakat tidak lagi berpikir mengenai negara mana seseorang berasal namun kualitas apa yang dimilikinya.
Dilihat dari sisi lain, kaum miskin dan tidak berpendidikan serta kaum terpelajar yang minoritas dari masyarakat tersebut sudah melakukan perjuangan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang berupa protes atau kritik terhadap kinerja pemerintah yang sering kali tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Namun, perjuangan tersebut mengarah ke sisi negatif karena mereka melakukannya tanpa memikirkan kendala-kendala dalam pemerintahan dan hanya menuntut apa yang sesungguhnya mereka inginkan serta sering kali menuntut tanpa menawarkan solusi yang masuk akal, terlebih lagi perjuangan mereka tersebut sering dilakukan secara anarkis (hingga kaum terpelajar terlihat ‘rendah’ dan layaknya tidak berpendidikan).
Sebaliknya, para petinggi negara pun tidak mampu menunjukkan teladan yang baik hingga sering kali diprotes. Mayoritas diantara mereka melakukan praktek korupsi, lebih mementingkan uang daripada kewajibannya dalam membangun Indonesia menjadi negara yang lebih baik lalu mampu mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang seakan ‘menjauh’. Tak heran kalau mereka tidak dipercaya karena rasa nasionalisme mereka yang rendah namun terus menerus berada di jajaran petinggi negara.
Dengan hal-hal tersebut, perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, baik kaum miskin maupun terpelajar, sudah memudar. Rakyat tidak mampu lagi mengambil resiko yang besar seperti yang dilakukan masyarakat masa lampau demi negaranya sendiri, yang terasa wajar bila memikirkan bahwa negaranya juga tidak mampu memberikan ‘sesuatu’ untuk mereka; hal tersebut adalah siklus mematikan bila menunggu sesuatu untuk memberi terlebih dahulu baru kemudian bersedia memberi.
Hal tersebut disebabkan oleh rasa nasionalisme yang memudar digantikan oleh kepentingan golongan yang lebih mendominasi dan dianggap penting serta ketidakpedulian kaum terpelajar yang cara berpikirnya sudah modern (praktis dan realistis). Karena itu, bangsa ini butuh seseorang yang terpelajar, memiliki cara berpikir modern namun mempunyai rasa nasionalisme, serta mental yang kuat sehingga bangsa Indonesia dapat bangkit kembali.
Sebaliknya, sesungguhnya sebagian kelompok masyarakat sudah berusaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dengan cara membangun fasilitas-fasilitas yang lebih baik di Indonesia (mis. dalam hal transportasi, komunikasi, fasilitas umum). Hal tersebut membuat pertumbuhan ekonomi di Indonesia meningkat. Sayangnya, hal-hal sosial seperti kesenjangan sosial masih belum dapat teratasi dengan baik.
Saya merasa, meskipun kontroversial karena perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia pada masa penjajahan hingga mencapai kemerdekaan begitu panjang dan sulit, bahwa lebih baik Indonesia perjanjian KMB (Konfrensi Meja Bundar) tidak seharusnya ditandatangani dan konfliknya cukup sampai di perjanjian Renville. Hal tersebut akan berarti bahwa Indonesia akan tetap dijajah oleh Belanda. Namun, bila dibandingkan dengan saat ini, apa bedanya lagi masa penjajahan tersebut dengan masa kini, bukankah apa yang bangsa ini inginkan adalah kesejahteraan rakyat? Dan bila Belanda masih menjajah Indonesia, terdapat kemungkinan yang sangat besar bahwa Indonesia akan dibangun dan berkembang dengan lebih baik daripada keadaan yang dicapai saat ini.
Nyatanya, hal tersebut tidak mungkin diulang lagi dan tidak mungkin terjadi karena bangsa Indonesia memiliki rasa nasionalisme yang sangat tinggi saat itu. Lain halnya dengan masa lampau, di masa sekarang, ketika Republik Indonesia seharusnya berbentuk Negara Kesatuan, mayoritas dari kalangan masyarakat hanya mementingkan kepentingan golongan, sulit diajak berunding, dan terkesan tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh golongan lainnya sebatas mereka tidak menganggu mereka. Hal tersebut memperlihatkan bahwa bangsa Indonesia sudah ‘rapuh’ dan ‘terpecah-belah’ serta rasa nasionalisme yang makin memudar tergantikan oleh kepentingan golongan. Jadi, bukankah lebih baik merendahkan diri dengan menyerahkan kedaulatan ke bangsa lain yang mampu mengurus bangsa ini dengan baik, menerima hasil yang baik meskipun bangsa ini kembali menjadi bangsa terjajah, tapi pada akhirnya akan meraih sesuatu yang besar? Dijajah sekali lagi dan dibangun kemudian berkembang, merendahkan terlebih dahulu sebelum pada akhirnya berada di tempat yang lebih tinggi. Hal tersebut cocok dengan cara berpikir praktis dan realistis yang sesuai dengan cara berpikir masyarakat zaman sekarang.
Lagipula, apa bedanya dijajah dengan terlilit jumlah utang yang besar dengan dijajah dengan menyerahkan diri sendiri? Bukankah dengan menyerahkan diri sendiri lebih ‘terhormat’ daripada ‘sok’ berusaha mengatasi keadaan dan melilitkan diri dalam jumlah utang yang besar namun tidak mendapatkan hasil yang sesuai karena ‘dimakan’ oleh ‘penjajah dalam negeri sendiri’? Sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa sesuatu yang bagus bila tidak memiliki manajemen yang bagus adalah percuma, maka mengapa tidak bangsa Indonesia serahkan saja ‘manajemen’ negara Indonesia ini kepada negara lain (atau bekerja sama dengan negara lain dalam hal tersebut) yang mampu menangani masalah ‘manajemen’ negara dengan lebih baik dan sudah berpengalaman lalu mendapatkan hasil yang baik serta pastilah tidak akan lebih buruk daripada keadaan yang ada saat ini?
Saran agar perjuangan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia dapat dilakukan dengan maksimal yaitu bagi para pelajar yang merupakan penerus-penerus bangsa, harus memiliki sikap layaknya seorang terpelajar (mental terpelajar) dan oleh lingkungan sekitar ―keluarga, sekolah, masyarakat― ditanamkan rasa nasionalisme sehingga ketika sudah saatnya nanti, bila diperlukan sebagai penerus bangsa, dapat diandalkan dan tidak tergerus oleh arus yang tidak benar; bagi para pemimpin bangsa, berani menyadari bahwa bangsa ini butuh seseorang yang lebih baik daripada sekedar koruptor dan sesegera mungkin ‘menyingkir’, berani melawan cara yang tidak seharusnya dalam mempertahankan kemerdekaan meskipun ditentang banyak orang.
Harapan di masa mendatang yaitu pada pemilihan umum 2009 nanti atau suatu saat nanti, akan muncul seorang pemimpin bangsa yang berani melawan segala ‘ketidakbenaran’ dalam tubuh bangsa Indonesia ini, terutama dalam tubuh pemerintahan. Seorang pemimpin yang melakukan hal tersebut akan butuh suatu keberanian yang sangat besar karena hal tersebut berarti melawan hampir seluruh rakyat Indonesia dan mental yang sangat kuat karena pastilah banyak protes bermunculan didampingi oleh perlawanan dari banyak sisi.
*data statistik tersebut didapat dari http://www.bps.go.id/releases/files/kemiskinan-01sep06.pdf
‘Setipis’ Buku Mengenai Manis Pahit Kehidupan
‘Setipis’ Buku Mengenai Manis Pahit Kehidupan
Judul Buku : Jangan Berkedip―Kumpulan Cerita Sangat Pendek Yang Mengejutkan
Penulis : Primadonna Angela Mertoyono & Isman Hidayat Suryaman
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: April 2006
Tebal : 200 halaman
Membaca adalah hal yang membosankan. Bagi sebagian besar masyarakat, hal tersebut memang benar adanya. Salah satu penyebabnya adalah karena membaca diidentikkan dengan tulisan yang panjang lebar yang mengundang sebagai pengantar tidur yang super efektif, bukannya sebagai bahan hiburan.
Menyadari hal tersebut, kedua penulis yang merupakan pasangan suami-istri yang menetap di Bandung tersebut membuat suatu kumpulan cerita pendek yang merupakan buku kolaborasi pertama mereka. Dilandaskan pengalaman menjadi penulis profesional selama bertahun-tahun, baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris, novel maupun cerita pendek, kumpulan cerita pendek ini menjadi bacaan yang sangat menarik.
Primadonna Angela, yang memulai kariernya dengan menulis cerpen di berbagai majalah remaja, saat ini lebih banyak bergelut dalam menulis novel remaja. Beberapa bukunya sudah dicetak ulang beberapa kali, antara lain Belanglicious (2006) dan Quarter Life Fear (2006). Selain itu, dirinya juga dekat dengan penggemarnya melalui forum maupun blog di internet. Sedangkan Isman Hidayat, yang merupakan lulusan Teknik Informatika, bergelut dalam jurnalisme online dan copy-writing. Dirinya pun sudah menerbitkan kumpulan esainya ‘Bertanya atau Mati!’ (2004) yang bertema humor dan sebuah buku petunjuk menarik berjudul ‘Tujuh Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint’.
Buku yang setebal 200 halaman ini berisi 65 cerita pendek, atau lebih tepat bila disebut dengan flash fiction alias cerita kilat atau super pendek. Sesuai dengan judulnya, cerita-cerita yang dimasukkan dalam buku ini diceritakan ‘hanya’ dengan 1 hingga 600 kata. Ceritanya singkat namun memiliki kekuatan untuk menceritakan sesuatu yang ‘menggelitik’ dan ‘membekas’ bagi pembacanya meskipun hanya dibaca dalam waktu yang singkat.
Salah satu contoh yang ‘menggelitik’ dapat ditemukan pada sampul buku tersebut. Pada bagian depan terdapat gambar seorang wanita muda yang membawa handphone dan tas tangan ingin menyebrang jalan, ditarik tangannya dari belakang secara kasar oleh pemuda dengan penampilan berantakan. Perampokan? Tunggu sampai Anda membuka kuping (flap) sampul depan dan melihat gambarnya secara utuh. Kejadian sebenarnya yang terjadi adalah… Baca sendiri novelnya.
Layaknya sampul tersebut, cerita-cerita yang disajikan pun tidak jauh dari kesan tersebut. Membuat ‘wah’ dan ‘o’ bergema dalam kepala pembaca. Salah satunya yaitu ‘Semua yang Ingin Kaukatakan pada Cinta Pertamamu Saat Ia Tiba-Tiba Lewat di Hadapan Setelah Lima Tahun dan Tampak Sangat Menawan Tanpa Cincin di Jari Manisnya Apalagi dengan Sorotan Jingga Matahari Senja yang Membuatmu Mengharapkan Daun-Daun Ikut Berguguran Begitu Ia Berhenti Serta Menatapmu’.
Melihat judul karangan Isman yang panjang tersebut, pastilah pembaca merasa ‘janggal’ karena pada umumnya judul dibuat secara ringkas dan padat. Namun hal tersebut memang ‘sangat’ khas Isman yang humoris dan malah membuat pembaca makin terdorong untuk membaca karena kata-kata dalam judul tersebut sangat dekat dengan kehidupan. Hal tersebut akan makin tersadari ketika membaca satu kata yang merupakan satu-satunya kata yang menjadi isi cerita tersebut. Tertarik untuk tahu?
Salah satu cerita yang ‘menyahat’ hati dalam buku fiksi tersebut berjudul ‘Finalé’. Diambil dari sebutan dalam balet untuk gerakan akhir seorang pebalet. Cerita yang diawali dengan kata-kata yang ‘terlihat’ bersemangat tersebut ternyata malah mengiring pembaca ke suatu akhir di ‘lantai sepuluh’. Bingung? Bacalah.
Mirip dengan Isman yang humoris namun dengan gaya bercerita yang berbeda, Donna pun menyajikan cerita yang unik. Dalam ‘Namaku Monique Chayenne Deborah’, Donna menceritakan perempuan bernama tersebut yang mengetahui asal usul namanya yang ‘keren’ tersebut dan ternyata, setelah mengetahuinya menyesal karena sulit memutuskan masih tetap menganggapnya begitu atau tidak karena orang tuanya memberi nama tersebut dari merk celana dalam, Monique, sehingga namanya menjadi Monique Chayenne Deborah = Monique CD (Celana Dalam).
Meskipun ditulis dengan gaya yang unik dan menarik serta memberikan pembaca suatu pengetahuan baru mengenai gaya penulisan yang lain bahwa suatu cerita dapat ditulis hanya dengan satu kata dan ditambah lagi dengan bahasa yang baku namun tidak kaku, buku tersebut memiliki beberapa hal yang membuat pembaca merasa ‘tidak nyaman’. Mengingat banyaknya cerita yang digabungkan dalam 200 halaman tersebut serta bahwa tema yang diambil sangatlah luas yaitu mengenai kehidupan, seharusnya kedua penulis atau editor mampu menyusunnya dengan ‘teratur’ sehingga pembaca tidak merasa ‘kaget’ dengan perpindahan cerita yang sama sekali tidak berhubungan satu sama lainnya tersebut, apalagi mengingat bahwa cerita yang disajikan tersebut dimaksudkan untuk membuat orang ‘tidak berkedip’.
Perpindahan ‘kilat’ tersebut dapat dilihat ketika penulis menempatkan ‘Manajemen Angkara’ yang berkisah mengenai seseorang yang diharuskan menulis jurnal-jurnal pendek mengenai kehidupan sehari-harinya yang penuh dengan kemelut karena diharuskan mengikuti kelas pengendalian amarah, padahal sebelumnya menempatkan ‘Refleksi Cinta’ yang bercerita mengenai kecintaan seseorang perempuan pada bayangan dirinya sendiri.
Mungkin membaca memang membosankan. Mungkin membaca mengundang kantuk. Namun, ketika memegang dan membaca buku ini, kita tak perlu merasa bosan karena buku ini tidaklah tebal, bahkan tergolong kecil, serta diisi oleh cerita-cerita pendek yang sangat pendek yang menarik dan mengagetkan sehingga hampir tak mungkin kantuk akan datang menyerang. Siapkah Anda ‘Jangan Berkedip’?
Saturday, December 20, 2008
baca.. baca.. baca..
Akhir-akhir ini, gw jadi orang 'gila'.
Kenapa? Soalnya gw kebanyakan baca buku. Bukan masalah gw banyak baca buku ato bukunya, tapi masalahnya tuh, gw bacanya secara beruntun, tanpa jeda.
Jadi, akhir-akhir ini tuh gw berusaha baca buku secepet-cepetnya yang gw bisa (dalam konteks, gw masih bisa mencerna apa yang gw baca), trus setelah buku itu selesai gw baca, gw langsung taruh tuh buku ke dalam menara gw (ck ck ck), trus gw ambil buku lain lagi n mulai baca lagi.
Masalahnya? Gw ga biasanya kayak gitu.
Biasanya tuh abis baca satu buku tuh buku bakal gw ngiang-ngiangin dulu isinya, inget-inget tokoh-tokohnya, inget-inget ceritanya, inget-inget segala-galanya tentang tuh buku dulu (kalo ceritanya ga gitu bagus, gw hina-hina dulu; kalo bagus, gw inget-inget mulu; ck ck ck). Intinya, menginggalkan kesan sebanyak mungkin dalam otak gw.
Abis itu, setelah ngambil jeda sejenak --sekitar besokannya (kalo bukunya gw selesein malem-malem) ato sekitar malemnya (kalo gw seleseinnya pagi ato siang ato sore-sore)--, barulah gw mulai buku baru.
Dengan cara baca gw yang sekarang (yang terkesan buru-buru, dan emang kayak gitu sih), rasanya tuh gw jadi 'aneh' sendiri. Rasanya tuh ngefokusin pikiran gw dari setting (bahasa, tempat, alur, sudut pandang, dll) tertentu dan langsung ngerubahnya, rasanya terlalu cepet, terlalu aneh, terlalu ga biasa.
Contoh simpelnya tuh pas gw baca buku-bukunya Sandra Brown di awal-awal bulan ini. Gw 'ngelompat' dari buku yang satu ke buku yang lain. Sehari satu buku, beda hari beda buku. Awalnya (pas baru satu dua buku), masih oke-oke aja. Makin ke belakangnya (tiga empat buku n lebih), gw tuh disorientated. Jadinya, gw ngerasa gamang. Apa yang gw baca jadi agak aneh meskipun gw emang ngerti apa yang gw baca n merasakan apa yang gw baca.
Contoh yang agak luar biasa efeknya baru-baru aja gw alamin. Setelah ngebaca selesain rentetan SB, gw mulai beranjak ke buku-buku lain. Gw baca Secrets of a Summer Night (Lisa Kleypas) trus gw lanjutin sama The Wedding Officer (Anthony Capella). Kedua buku itu sih ga gitu ngebuat gw disorientated, berhubung settingnya itu ga jauh beda; malah bisa gw hubung-hubungin gitu. Yang parah tuh pas gw selese baca The Wedding Officer n langsung baca Summer in Seoul (Ilana Tan). Gw bener-bener disorientated.
The Wedding Officer ceritain tentang pejabat pernikahan pas masa perang tahun 1940an di Itali, bukunya agak tebel, bahasanya agak baku tapi oke aja, ceritanya ngalir gitu aja, make sense, nyentuh banget di saat-saat tertentu n mampu ngebuat gw 'wah' ato jijik sendiri; intinya, gw makin lama makin demen sama tuh buku, apalagi sama endingnya, ck ck ck (must read!!!).
Kalo Summer in Seoul, yang ngarang jelas orang Indonesia, bukunya ga gitu tebel, bahasanya bahasa agak baku n oke aja tapi rasanya agak aneh, settingnya di Seoul masa kini, ceritanya meskipun ngalir tetep aja ngebuat gw ga nyaman, alurnya bisa ditebak. Pas baca, gw terus-terusan mikir, mana yang bagus (berhubung GlC bilang kalo nih buku bagus); trus gw juga mikir, kok ni novel ringan amat (bukan ringan dalam hal berat tapi dalam hal isi); n hal-hal lainnya yang sejenis.
Jumat, 19 Desember 2008
Counting days buat Natal n Tahun Baru. ck ck ck.. ga kerasa, sebentar lagi bo...
Bangun.
Mandi.
Minum susu plus makan es krim (ga ada makanan yang laen, jdnya mo ga mau, buat ngisi perut dulu).
Pergi ke MegaMal, narik duit buat jalan-jalan --keadaan keuangan gw sangat buruk sekali di akhir tahun ini.
Ke sekolah, temenin ii gw ambil rapot gw.
Ke TU sekolah, nanyain yang ga beres --sebel gw ma ***** alias ****** yang kebetulan lagi ada disono, sok baek gitu tampangnya, tapi tetep aja gw ga demen sama dia.
Ngobrol bentar bertiga.
Berlima ke Mal Kelapa Gading.
Jalan-jalan geje.
Makan di Yuraku --di tempat yang sama, di posisi yang sama, dengan orang yang sama seperti waktu dulu (ck ck ck).
Jalan-jalan geje lagi --entah apa dan mengapa, kaki gw pegel banget n nyawa gw kayaknya melayang... ck ck ck...
Pulang naek taksi.
Kamis, 18 Desember 2008
Entah untuk yang keberapa kalinya dalam minggu ini, gw males banget bangun dari tempet tidur tapi akhirnya, mau ga mau, bangun juga.
Hari terakhir sekolah buat semester ini.
--Seneng? Biasa aja tuh.
--Ngapain aja di sekolah? Geje abis.
Sepanjang hari di sekolah, gw pengen pulang mulu (well, sebenernya akhir-akhir ini, gw pengen pulang ke rumah terus).
Pemilu ketua OSIS ga jadi dilaksanain gara-gara murid-murid sekolah gw mencetak rekor.
--Rekor yang berupa ketidakhadiran 149 murid dari tiga angkatan (satu angkatan ada lima kelas, per kelas nya ada skitar 30an orang) pada hari itu (aka hari sakit masal, ck ck ck; sudah sering terjadi pada saat-saat tertentu, dilakukan tanpa perjanjian khusus dari pihak-pihak yang terkait, yang pasti: dilakukan serentak dan sama sekali tidak mengagetkan).
Pada jam-jam awal sekolah, masih bisa ngobrol-ngobrol bareng.
Pada jam-jam akhir, jiwa rasanya melayang dari tubuh.
Pas pulang, nyawa yang melayang kembali sejenak, sempet baca buku sebentar, tapi trus siesta (bahasa Itali, artinya tidur siang; bru belajar dari novel yang baru aja selese gw baca 'The Wedding Officer'). Siesta berlangsung ga selama yang pas hari Rabu (pas itu, gw tidur 4,5an jam, lama banget bo).
Wednesday, December 17, 2008
apa kabar psoriasis..?
Perkembangan terakhir sejak my last post tentang hal ini yaitu psoriasis ini bertambah baik (maksudnya bukan makin berkembang dengan baik tapi proses penyembuhannya berjalan dengan lancar tanpa hambatan berarti kecuali bekas yang belum mau hilang juga plus kadang-kadang gatel).
Tentu aja, melihat hal itu, gw seneng-seneng aja. Jalan keluar dari rumah makin enjoy berhubung ga perlu terlalu mikirin apakah bintik-bintik merah gw keliatan ato engga plus segala macem lainnya.
Sayangnya, ada hal yang bikin gw sebel. Si dokter tuh kalo ditanyain tuh jawabannya itu-itu aja. Pas gw nanya tentang kuku-kuku gw yang mulai disorder, dia jawab 'olesin aja dikit-dikit'. Pas gw nanya tentang bekas yang ga juga ilang (well, gw ga mau badan gw berbekas kayak gini), dia jawab 'pake aja bedaknya', gw nanya lagi 'emangnya ga ada yang laen?', dia jawab 'pake bedak aja cukup, entar juga ilang'.
Hal lain yang bikin gw sebel yaitu biaya pengobatan gw selama ini tuh udah super mahal menurut ukuran standar gw. Seminggu tuh bisa ngabisin sekitar ***. Well, pas awal-awal pengobatan mah oke-oke aja, namanya juga jarang-jarang sakit, sekalinya sakit ya bisa dianggep sebagai tombokan buat yang dulu-dulu. Tapi, makin lama malah makin keterusan beli tuh obat, suntik lah, salep lah, lotion lah, bedak lah. Sumpah deh, mahal banget. Bangkrut kali kalo beli obat mulu (yah, meskipun bokap-nyokap bilang kalo yang penting tuh bisa sembuh, gw tetep aja sebel).
Alhasil dari kekesalan gw (bukan kesel sih, lebih ke ke usaha buat mengurangi pengeluaran yang sebegitu banyaknya) plus saran tiba-tiba dari my auntie plus my grandpa plus bintik-bintik gw yang bisa dibilang tinggal bekas doank, gw berani-beraniin buat nyoba alternatif lain buat psoriasis gw ini.
Percobaan itu gw lakuin sekitar hari Selasa, 9 Desember 2008 sampe Kamis, 11 Desember 2008 (minggu lalu, berlangsung selama 4 hari penuh kenekatan). Yang gw coba tuh berupa cuka plus obat salep yang pernah dikasih sama my grandpa. Kabarnya, cuka yang dipanasin bagus buat kulit (terbukti dari kata tetangga disono yang bilang kalo gigitan nyamuk yang bertanda pas dipakein itu bisa hilang). Kalo obat salep itu, gw juga pernah pake dikit-dikit di tangan, hasilnya ga gitu jelas (tapi setau gw ga memburuk).
Malem pertama make cuka, besok paginya tuh kayaknya telapak kaki gw membaik (seneng donk gw, apalagi berkat terbebas dari obat dokter yang lengket plus super mahal). Pas paginya, berhubung ga mungkin pake cuka pagi-pagi berhubung baunya itu sungguh sangat mematikan asa plus mampu menimbulkan malu tak tertahankan, gw pake obat my grandpa. Trus intinya, secara bergantian, gw pake tuh cuka sama salep.
Hasilnya yaitu bintik-bintik merah tersebar lagi dengan sangat super cepatnya di satu badan gw (when i said one body, i really meant it, literally). Dan tentu aja, gw shocked lagi. Sebenernya sih, gw udah sadar kalo bintik-bintik itu nambah, cumannya, gw tetep nekat aja entah kenapa. Sialnya, nekat gw tuh baru berhenti ketika bintik-bintiknya nyebar begitu banyak.
Akhirnya, tentu aja, gw balik lagi ke si dokter mahal dengan obatnya yang mahal. Setelah disuntik plus makan obat dia plus make salep dia plus bedaknya selama 6 hari ini, keadaan gw membaik dengan cepat dan hampir-hampir tinggal bekas. Amin.
Monday, December 15, 2008
Senin, 15 Desember 2008
Ke sekolah (tadinya males banget buat bangun, badan gw geje gitu, kedinginan gak jelas, pengennya ngumpet di balik selimut aja).
Class-meeting geje di sekolah (well, gw ga suka berpanas ria di lapangan yang mampu ngebuat gw keringetan plus trigged my lovely psoriasis).
Ngumpul-ngumpul bareng, ngobrol-becanda-geje-dengerlagu-ktawaktawa-makan bareng (di samping lapangan, di depen kelas, di dalam kelas yang berAC).
Pulang skitar jem satu.
Sampe rumah ganti baju, langsung ke rumah GlC (ck ck ck) naek angkot merah ria.
Di rumah GlC, berkumpul kembali berlima.
Makanmakananpadang-minum-nyemil-ngobrol-nonton-dengerlagu-geje.
Jem 6, kluar dari rumah GlC bareng Will ma I San.
Ke tempet dokter buat beli obat.
Pulang naek bajaj.
Sabtu, 13 Desember 2008
Pergi ke PS.
Berlima plus our special guest for the day, Asung's brother.
Beli tiket nonton.
Geje di Kinokuniya.
Makan di Tesate.
Nonton The Day The Earth Stood Still (wtf!! film macam apa itu..!!).
Nyebrang ke SenCi.
Ngobrol-ngobrol di food court-nya setelah geje muter-muter.
Pulang.
Wednesday, December 10, 2008
Rabu, 10 Desember 2008
Pergi ke rumah William.
Ber5 ngobrol-ngobrol.
Ngegosip.
Ngebahas hal-hal biasa ampe jadi hal-hal penting.
Pesen makanan.
Makan.
Ngejoke --'joking is not important'.
Ngobrol.
Geje.
Ngerjain Santy.
Pulang naek bajaj.
Selasa, 9 Desember 2008
Pergi ke MM.
Ke Hanamasa.
Ketemu our big friend yang udah ga big lagi.
Cerita-cerita.
Gosip.
Nonton City of Ember --lumayan lah, tapi biasa.
Pulang.
Sabtu, 6 Desember 2008
Pergi ke MM.
Makan Bubur Sapi Iris (tanpa sapi iris di dalamnya-wtf!!) di Red Bean.
Nonton Twilight.
--Well, gw dah ngarep kalo tuh film mantep banget tapi ternyata sekelas film Indosiar, bener-bener kecewa, bener-bener beda jauh sejauh-jauhnya dari bukunya.
Pulang.
Kena hujan dikit.
Monday, December 1, 2008
Sabtu, 29 November 2008
Naik taksi dari Megamal.
Pergi ke PS.
Makan Fiesta.
Geje di Kinokuniya.
Nyemil Raffel's.
Nonton Journey to the Earth 3D.
Hujan.
Pulang naik taksi.