Thursday, January 31, 2008

Rambut-Rambut Cinta


Pertama kali kulihat dia, aku hanya melihat rambutnya. Panjang. Tergerai. Indah. Dia berpapasan denganku pada suatu saat, dirinya berjalan melewatiku dan aku baru tahu bahwa itu adalah dirinya ketika rambutnya mengenai wajahku. Baru kusadari saat itu bahwa aku jatuh cinta padanya ―atau dengan kata lain, jatuh cinta pada rambutnya.

Rambut yang ia miliki tak akan pernah membuat rasa cintaku padanya menyurut. Aku selalu terkagum-kagum pada rambutnya. Wajahnya pun menawan. Tubuhnya menggelora. Kakinya menggairahkan. Ia menatap ke dalam mataku. Aku membalas tatapannya. Wajah kami mendekat. Hanya sekitar 5 cm lagi. Bibirku kumajukan. Mataku kututup. Kumajukan wajahku lagi, lalu kubuka lebar mulutku. Terasa sesuatu yang halus memasuki lubang mulutku. Mataku kubuka. Oh tidak, aku memakan rambutnya. Sesuatu yang kudambakan malah kurusak. Bagaimana ini?

Belum ―belum, belum tergigit. Untunglah. Piuhh... kukeluarkan rambutnya itu dari mulutku. Ada sedikit liur sih, namun tak apalah. Kenapa dia tidak berjalan lagi ya? Ow, ada papan pengumuman ternyata di belakangku, dia sedang membacanya. Kulap liurku dari rambutnya. Tiba-tiba saja dia berbalik dan parahnya ―”Aaaaaa...”― dia menjerit kencang.

“Eh, eh..,” kataku salah tingkah.

“Apa eh-eh?! Ini apaan? Kok ada air lengket di rambutku?! Kamu juga ngapain pegang-pegang rambutku?!” bentaknya sambil memegang-megang rambutnya. Bagaimana ini?

“Tadi diatas ada yang ngebuang cairan entah apa ke bawah, terus kena rambut kamu, jadi aku coba buat ngelap,” kataku asal.

Raut wajah perempuan berambut panjang ini perlahan-lahan berubah. Dari marah hingga malu.
“Ya ampun.” Suaranya melembut. “Kamu bae banget. Makasih.”

“Oh.” Aku tersipu sendiri ketika perempuan itu mulai memegang tanganku ketika mengucapkan terima kasih. “Sama-sama. Rambut kamu bagus sih.”

Dia tersenyum. “Oh ini.” Dia memegang rambutnya. “Emang bagus, aku juga ada yang warna pink, biru, hijau, nanti aku mau beli yang pirang.”

Rahangku rasanya langsung jatuh ketika dia mengatakan hal itu.

“Sori, kamu pake rambut palsu?” tanyaku jujur, ragu-ragu.

“Emang cuma aku hobi aja ngecat rambut, yang kumaksud tadi, aku punya banyak botol cat rambut aneka warna,” jawabnya dengan mimik polos yang terdengar serasa meremas-remas jantungku.

Aku agak lega mendengar penuturannya. Hampir kukira ia botak. Masih deg-degan, karena insiden ‘gue-kira-kpala-dia-ternyata-botak’ dan dia juga masih megangin tanganku, aku melengos lega.

“Kamu juga mau liat yang warna warni? Ato kamu mau punya rambut warna-warni gitu?” tanyanya genit, tubuhnya makin lama makin dekat denganku.

“Aku pengennya sih kamu.” Aaargghh... Bego banget. Kok bisa ngomong gitu tiba-tiba sih?

“Boleh-boleh aja. Kamu bisa datang nanti malam ke rumahku. Aku dan teman-teman cewekku bakal ngadain acara ‘Stylish Hair Fashion Show’ yang seru banget. Kamu bisa jadi juri tamu. Dan kamu bisa lihat aku dengan berbagai warna dan bentuk rambut,” jelasnya panjang dan membuat aku binggung.

Oh no.. oh no.. oh no.. oh no..., pikirku cemas, kenapa dia ga ngerti sih? Maksudku kan bukan rambut, maksudku itu ‘dia’, ‘dia’ jadi pacarku.. bukan rambut.

Aku mendeham, berusaha menjelaskan lebih lanjut namun tak tahu bagaimana. “Maksudku, aku pengennya kamu, bukan rambut kamu,” kataku lugas.

“Hah? Kamu maunya apanya aku?” tanyanya dengan ekspresi bodoh.

“Diri kamu. Aku suka sama kamu. Sejak dulu.”

“Apa?! Bahkan aku nggak tau nama kamu...”

“Namaku Tubmar,” ucapku ragu, namaku pasti aneh sekali baginya. Genggamannya makin erat.
Matanya berkaca-kaca menatap mataku. Bibirnya bergerak perlahan-lahan, berusaha mengucapkan kata-kata, setelah beberapa lama tidak mengeluarkan kata apapun, suaranya mulai terdengar, “Oh my God, kamu so sweet banget. Tubmar? Itu kebalikannya rambut kan?”

Aku menatapnya binggung. Rambut? Tubmar? Aku berpikir sejenak. Memang benar sih kebalikannya, tapi aku baru tahu juga sekarang. Yang kutahu, namaku itu asalnya dari...
Oh ya! Namaku itu.. dari nama Papa dan Mama. Nama Papa Tuberano. Nama Mama.. Marimar. Jadi, mana mungkin namaku berasal dari kata rambut yang dibalik? Tapi, dia bener juga. Apa jangan-jangan karena itu, aku mencintai rambut wanita ini?

“Kalau gitu, nama kamu siapa?”

“Namaku Cinta,” jawabnya penuh semangat.

“Sangat pantas dengan kamu. Kamu kelihatan penuh cinta.”

“Aih,” ucapnya tersipu, suaranya sedikit centil, sedikit genit, terdengar begitu menggoda. “Kamu bener-bener so sweet deh.”

Wajahku merona, memanas, seiring dengan kata-katanya dan wajahnya yang makin mendekat, lebih dekat lagi, sangat dekat, terlalu dekat, menempel ―dan sayangnya, menempel di rambut― bukan di bibirku yang sudah menanti ini.

“Ups,” katanya terkejut.

“Kita itu kompak banget ya? Tadi jujur aja yang nempel di rambut kamu bukan cairan dari atas, tapi liurku karena aku pingin cium kamu. Tapi yang kena malah rambut kamu. Sori yah.”

“Apa? Jadi liur kamu nempel di rambutku?!”

Aku mengangguk pasrah, siap bila dia marah dan melepaskan genggamannya dariku. Namun, lagi-lagi, matanya menjadi sayu dan berkaca-kaca, mempererat genggamannya. “Kamu.. bener-bener so sweet banget yah. Aku suka banget deh.”

Suka? Suka ‘suka’?

Wajahku memerah. “Aku juga suka.”

Wajah Cinta mendekat lagi. Kali ini bibirnya diarahkan pada bibirku, bukan tempat lain, bukan di rambut.

Aku siap menyambut bibirnya yang merekah itu.

Sesaat sebelum dia menyatukan bibirnya denganku, dia berbisik, “Tubmar and Cinta. Ada Tubmar ada Cinta. Rambut-rambut cinta.”

2 – 15/01/08
14.30

-CaSh-

No comments: