Sunday, February 1, 2009

Analisis ‘Menelusuri Akar Ketimpangan dan Kesempatan Baru: Catatan Tentang Sejarah Perkebunan Indonesia’

Perkebunan memang sudah dapat dikatakan berkembang sejak dulu di Indonesia, yang kemudian meninggalkan bekas-bekas sejarah perkebunan yang tak akan hilang sampai kapanpun. Hal inilah yang mungkin menarik Bambang Purwanto untuk membuat tulisan mengenainya. Perkebunan memang sudah banyak bermunculan pada sekitar abad ke-15 dan 16. Namun terjadi perkembangan terhadap perkebunan yang sangat luar biasa pada pertengahan abad ke-19 sampai 20 ―yaitu saat penanam modal dari Barat datang. Perlonjakkan dalam hal perkebunan ini tentunya menimbulkan berbagai pengaruh-baik pengaruh positif maupun negatif. Positifnya dialami oleh para penanam modal yang puas dengan hasil perkebunan, juga dengan keuntungan besar yang mereka dapatkan sedangkan Indonesia mungkin punya suatu hal yang membanggakan yaitu perkembangan perkebunan yang mengharumkan nama Indonesia. Satu yang mengecewakan, elite-pejabat-pejabat-pribumi pun mengkhianati masyarakatnya sendiri dengan membantu musuh negaranya hanya demi keuntungan ganda yang mereka terima. Tapi, mungkin mereka juga tidak dapat sepenuhnya disalahkan, karena jika mereka melawan, mereka mungkin akan dimusnahkan. Hal itu semakin memperkuat birokrasi pada masa itu sehingga aspek-aspek selain itu tidak terlalu diperhitungkan. Di samping itu, ternyata ada juga para elite lokal yang dengan teguh mempertahankan nasionalismenya dengan tidak menuruti para penguasa kolonial.
Sementara itu, lingkungan perkebunan pada masa itu terbagi menjadi dua lingkungan dimana lingkungan tersebut terdapat paling banyak di Jawa. Dalam lingkungan pertama ini, keterlibatan langsung penduduk setempat sebagai tenaga kerja sangat intensif. Bukan hanya laki-laki dewasa yang dilibatkan, tetapi juga wanita dan anak-anak. Pada saat ini diperkirakan terjadi penekanan yang cukup besar pada ekonomi desa sehingga wanita dan anak-anakpun akhirnya dijadikan tenaga kerja. Sepertinya, pada masa kolonial, para penguasa harus gencet sana-sini demi memuaskan ekonomi negara mereka. Pada saat yang sama, penduduk juga mampu memanfaatkan teknologi baru dan kesempatan kerja sebaik-baiknya. Hal ini menunjukkan pada saat itu, masyarakat menunjukkan pola pikir yang cukup kritis. Bukan ikut-ikut saja. Lingkungan kedua banyak terdapat di Sumatera dan Kalimantan. Terjadi pemisahan antara perkebunan sebagai pusat produksi komoditi untuk pemenuhan kebutuhan pasar dunia dengan lahan penduduk untuk menanamkan kebutuhan pangannya. Sudah jelas kebutuhan pasar dunia jauh lebih penting dari kebutuhan penduduk setempat. Jika mau dikata, keadaan penduduk setempat sangat memprihatinkan. Tidak seperti kita, mereka tidak bisa memperjuangkan hak mereka. Beberapa dari mereka bahkan hidup hanya untuk menjalankan kewajibannya. Berbeda dengan elite di lingkungan pertama, elite di lingkungan kedua tidak bisa mengerahkan tenaga kerja di bawah kekuasaannya sehingga membuat elite di lingkungan kedua terlihat tidak penting. Selain itu, terjadi juga kebutuhan akan tenaga kerja luar ―juga tenaga kerja kontrak. Pada lingkungan pertama, kehadiran pendatang sangat terbatas namun tinggalnya menetap. Berbeda dengan lingkungan kedua, banyak sekali pendatang yang masuk namun tinggalnya tidak menetap. Hal tersebut juga dipicu oleh digunakannya tenaga kerja dari luar. Dua lingkungan tersebut telah membentuk sebuah kultur komuntitas perkebunan.
Di sisi lain, keadaan ekonomi rakyat kecil pada masa itu sangatlah memprihatikan. Hal itu disebabkan oleh kecilnya pengaruh kelompok masyarakat tersebut dan besarnya pengaruh kelompok swasta. Yang disayangkan, ketidak seimbangan tersebut didukung pula oleh kelompok masyarakat elite yang mengambil keuntungan juga dari kecilnya pengaruh rakyat kecil. Hal itu, seperti dapat dilihat, sangat mencerminkan betapa bobroknya mental masyarakat pada jaman itu, yang tentu saja, besar atau kecil, mempengaruhi mental masyarakat generasi berikutnya, bahkan hingga saat ini.
Pemakaian tenaga kerja yang berasal dari masyarakat dalam negri yang terus bertambah dan pemakaian tenaga kerja yang berasal dari masyarakat luar negri yang secara bertahap terus berkurang, menunjukkan bahwa masyarakat dalam negri lebih mudah dimanfaatkan oleh pemilik modal saat itu. Hal tersebut menggambarkan bahwa masyarakat dalam negri belum mampu melawan kekuasaan yang berasal dari luar meskipun kekuasaan tersebut dipaksakan kepada mereka. Terlebih bila mengingat bahwa ada beberapa kelompok dalam masyarakat dalam negri yang malah mengambil keuntungan dari penderitaan yang dialami masyarakat sebangsanya.
Lingkaran setan yang terus membelenggu masyarakat dari generasi yang satu ke generasi yang lain digunakan sebagai momok bagi masyarakat untuk tidak melakukan perkembangan. Perkembangan dalam hal ini dimaksudkan sebagai kemajuan kehidupan masyarakat tersebut. Mereka tidak berkembang dan pasrah saja dalam menerima kenyataan meskipun jaman sudah berubah dan memungkinkan mereka melakukan perkembangan yang tidak mampu dilakukan pada jaman sebelumnya. Ketiadaan perkembangan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tersebut tidak berniat melakukan perubahaan dan mau menerima begitu saja suatu hal meskipun hal tersebut tidak sesuai dengan yang diinginkan. Mereka tidak berani melawan penindas mereka dan hal tersebut berarti mereka kembali terjerat dalam lingkaran setan. Bila dari generasi yang satu ke generasi yang lain tidak ada yang berani mengambil keputusan untuk melawan atau melakukan perubahan, maka lingkaran setan itu pun tidak akan terputus, sebab yang ada dalam lingkaran setan itu pun tidak ada yang melawan, terlebih lagi kelompok masyarakat yang diuntungkan dalam lingkaran setan tersebut dan mengingat tertanamnya mental pasrah dari generasi yang satu ke yang lain.
Pemanfaatan jalur birokrasi oleh kolonial dalam mengembangkan perkebunan sangatlah menguntungkan bagi mereka dan beberapa kelompok lainnya yang terhubung dalam jalur birokrasi tersebut. Kolonial memanfaatkan elite setempat dengan kekuasaan dan uang yang mereka miliki; elite setempat memanfaatkan penduduk setempat yang tidak mampu melakukan perlawanan yang berarti; kolonial mendapatkan keuntungan besar, elite mendapatkan keuntungan, rakyat kecil menderita.
Semua hal tersebut memperlihatkan bahwa mental masyarakat kecil hanyalah tertuju pada kepasrahan asal mereka masih dapat bertahan hidup; mental masyarakat elite setempat untuk mendapatkan keuntungan dari mental masyarakat kecil yang pasrah meskipun masyarakat kecil tersebut merupakan teman sebangsa mereka dan menjalankan keinginan dari kolonial karena mereka mendapatkan keuntungan darinya; dan kepandaian masyarakat kolonial dalam memanfaatkan mental masyarakat kecil dan elite setempat tersebut sehingga mereka mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
Secara keseluruhan, sejarah perkembangan perkebunan yang terjadi di Indonesia tidak terlalu membuahkan sesuatu yang sangat positif bagi perkebunan Indonesia masa kini. Masyarakat Indonesia tidak terlalu mengikuti globalisasi dan memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lalu. Mereka kurang bisa meresapi apa yang dikatakan belajar dari pengalaman (learning by experience). Bisa dikatakan, kondisi perkebunan sekarang sama saja dengan masa lalu. Rakyat kecil mau tak mau harus bekerja keras dengan upah minimum. Apa bedanya dengan dulu? Hanya sedikit lebih renggang, tapi rakyat sekarang juga harus berpikir keras untuk bisa menyambung hidup. Pengusaha zaman sekarang bisa dikatakan tidak jauh berbeda dengan penguasa kolonial zaman dulu.


Calvin (5), Shelyna Vialli (30)
XI IPS I – 2007 / 2008

No comments: